Surat dari Kami 2015 – “Mencegah Bunuh Diri: Mengulurkan Tangan, Menyelamatkan Jiwa”

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on pocket

Salam untuk semuanya. Seperti dua tahun sebelumnya, saya hendak ucapkan terima kasih yang mendalam terlebih dahulu atas partisipasi semua orang dalam #LightACandle #WSPD.

Dari tahun ke tahun, partisipasi untuk kampanye #LightACandle dalam Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia semakin meningkat. Hal ini dapat menjadi pertanda baik bagi kita semua, bahwa semakin banyak orang menyadari betapa pentingnya untuk membahas pencegahan bunuh diri. Fenomena bunuh diri yang berawal dari beragam isu sosial lainnya, dapat kita turunkan jika saja kita dapat saling membantu satu sama lainnya. Mental Health Action Plan dari WHO merencanakan penurunan sebesar 10% angka kematian bunuh diri dari tahun 2013 – 2020, hal ini hanya dapat terwujud jika kita semua mau peduli bersama. Kita boleh berbeda isu sosial dan permasalahan, berbeda latar belakang, berbeda budaya dan identitas, tapi kita tetap harus bersatu untuk mengulurkan tangan dan menyelamatkan jiwa. Semua ini hanya dapat diawali dengan membentuk masyarakat yang memiliki kepedulian sejati. Niat untuk mengulurkan tangan dan menyelamatkan jiwa perlu dipupuk agar tidak hanya ada dalam dunia maya ataupun suara hati belaka, tapi dapat menjadi tindakan nyata.

Tindakan nyata adalah hal yang perlu lebih banyak dilakukan untuk pencegahan bunuh diri. Mengulurkan tangan kepada mereka yang sedang bertarung melawan kegelapan dalam dirinya, melawan bisikan untuk mengakhiri hidup yang mungkin sudah tak bermakna lagi, agar mereka tau bahwa mereka tidak sendiri dan tidak perlu tersakiti dalam sunyi yang diakibatkan oleh stigma. Tidak perlu ada label lemah, bodoh, egois, putus asa, kurang iman ataupun label negatif lainnya yang perlu disematkan kepada mereka yang terpikir untuk bunuh diri. Mereka membutuhkan bantuan, bukan cacian. Mereka membutuhkan hati nurani, bukan sekedar janji apalagi ceramah yang belagak sok suci. Tidak ada nilai, tradisi, opini, ataupun keyakinan mengenai betapa buruknya bunuh diri yang harus lebih diutamakan apalagi lebih ditinggikan daripada nyawa manusia itu sendiri.

Menyelamatkan jiwa dapat kita lakukan jika saja kita tahu apa saja yang kita harus lakukan. Mari kita memperkaya dan mempercerdas diri. Melengkapi kemampuan kita semua untuk menjadi lebih peka terhadap tanda-tanda peringatan bunuh diri dan betapa kompleksnya perilaku bunuh diri. Kompleksitas ini dapat kita urai, lagi-lagi jika kita mau memulainya hanya dengan hati yang mau peduli. Peduli kepada semua orang, penghargaan terhadap nyawa dan kehidupan yang begitu berharga, terlepas apapun latar belakang dari orang tersebut. Karena kita tahu, bahwa masih banyak orang di luar sana, mereka yang setiap hari menderita dan memikirkan cara untuk mengakhiri hidup serta juga mereka yang terdampak atas kehilangan dari rekan yang melakukan bunuh diri.

Kita semua dapat mencegah hal ini agar tidak menjadi lebih banyak terjadi. Kita semua dapat membawa cahayanya masing-masing bagi mereka yang berada dalam kegelapan. Iya, kita semua, bukan hanya pemerintah atau profesional kesehatan jiwa, tapi kita semua dapat berperan. Itu termasuk aku dan kamu. Oleh karena itu, ayo, mari kita terus hapus stigma, peduli sesama dan sayangi jiwa agar kita dapat mengulurkan tangan dan menyelamatkan jiwa!

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on pocket
Benny Prawira Siauw

Benny Prawira Siauw

Benny adalah seorang suicidolog dan penggiat kesehatan jiwa remaja dan populasi khusus lainnya. Sebagai Youth Mental Health and Suicide Prevention Advocate, Benny adalah Penggagas sekaligus Kepala Koordinator Into The Light Indonesia sejak 2013. Ia saat ini sedang menempuh pendidikan Magister Psikologi Sosial Kesehatan di Unika Atma Jaya (bukan seorang psikolog klinis untuk diagnosis dan terapi). Ia bercita-cita menjadi peneliti lapangan terkait aspek perilaku, struktur sosial dan budaya dalam kesehatan jiwa, terutama dalam pembahasan stigma dan faktor risiko bunuh diri. Baginya, kesehatan jiwa tidak dapat dipisahkan dari kesehatan fisik sebagaimana faktor personal individu tidak dapat dipisahkan dari faktor sosial makro. Di sela waktu senggangnya, ia suka berolahraga, tidur dan mengasah rasa dalam rangkaian kata.