Hari Penyintas Kehilangan Bunuh Diri Sedunia 2015

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on pocket

Hari ini, Into The Light memperingati Hari Penyintas Kehilangan Bunuh Diri Internasional 2015 (International Survivor of Suicide Loss Day). Mereka yang menjadi penyintas kehilangan bunuh diri ini seringkali dibungkam oleh stigma bahwa kematian rekan mereka adalah aib dan memalukan bagi masyarakat, selain juga mengalami kesulitan emosional setelah ditinggalkan rekan mereka. Berada di antara kesedihan karena ditinggalkan dengan tragis, kemarahan karena cinta yang diputuskan selamanya dengan sengaja, kebingungan karena misteri peristiwa yang mengubah kehidupan dengan begitu drastis serta berbagai emosi negatif lainnya, para penyintas kehilangan ini perlu mengetahui bahwa mereka tidak menjalani itu semua sendirian.

Into the Light ingin membagikan terjemahan dari pembicaraan di Tumblr yang sempat menyebarluas via media sosial sejak Agustus lalu. Pembicaraan ini menjabarkan kurang lebih seperti apa perasaan mereka yang kehilangan rekan akibat bunuh diri, bagaimana sebuah kematian bunuh diri dapat mengubah kehidupan banyak orang. Semoga hasil terjemahan ini dapat meningkatkan kepekaan bersama dalam masyarakat kita.

Anonim, bertanya: Apa yang terjadi ketika kamu membunuh dirimu sendiri? Karena aku sudah siap untuk pergi.

E, menjawab: Kamu mau tau apa yang terjadi ketika kamu membunuh dirimu sendiri? Ibumu baru saja pulang kerja dan menemukan buah hatinya itu, sudah tak bernyawa dan dia berteriak dan dia terbirit-birit lari ke arahmu dan mencoba membangunkanmu tapi kau tidak akan membuka matamu lagi dan dia terus menjerit dan menggoyangkan tubuhmu yang kaku dan air matanya menetes jatuh ke wajahmu dan ayahmu mendengar semua jeritannya dan tergesa-gesa berlari memasuki kamar itu dan lidahnya pun kelu karena anak terkasihnya yang ia saksikan bertumbuh dewasa telah pergi untuk selamanya dan akhirnya adik perempuanmu bergegas menuju ruangan untuk melihat tentang apa kegaduhan itu semua dan melihatmu meninggal. Sosok yang selama ini dia kagumi dan ia cintai. Sosok yang selama ini selalu ia banggakan di depan teman-temannya, sosok yang selama ini ingin ia wujudkan ketika ia dewasa nanti, sosok yang membuatnya merasa aman. Tapi ia tak akan pernah bertumbuh dewasa dengan senyum, tawa, dan cinta karena ia akan selalu ditelan hidup-hidup oleh perasaan kehilangan akan dirimu. Dan sekarang, ada yang hilang dalam keluargamu dan mereka tidak dapat saling menatap satu sama lain karena semua hal mengingatkan mereka akan dirimu tapi kau telah pergi dan sakitnya melebihi apapun.

Dan kau berpikir bahwa ibumu tak pernah peduli karena dia selalu sibuk dan meneriakimu untuk menyelesaikan semua pekerjaan rumahmu dan membersihkan kamar tidurmu dan terkadang lupa mengucapkan “aku mencintaimu”, tapi sungguh, dia mencintaimu melebihi apapun dan dia tidak pernah lagi keluar dari rumah, dia bahkan tak dapat beranjak dari tempat tidur dan dia semakin kurus dan kurus karena sangatlah sulit baginya untuk makan. Ayahmu terpaksa berhenti dari pekerjaannya dan dia tidak dapat tidur lagi, karena setiap kali ia menutup mata, ia hanya melihat buah hati kesayangannya mati dan bayang-bayang itu tidak pernah hilang tak peduli seberapa banyak alkohol yang ia tenggak.

Dan di sekolah, sahabatmu melihat tempat dudukmu kosong dan ia merasa mual di perutnya kala ia mendengar pengumuman kematianmu. Kau menghabisi nyawamu sendiri. Dan ia berteriak histeris seketika dan tangisnya pecah di tengah kelas dan tak ada satu pun yang tergerak untuk menenangkannya karena mereka semua duduk kaku dengan air mata mengalir turun dari pipi mereka menatap ke arah bangku kosongmu dan hal yang begitu diinginkan oleh sahabatmu adalah kau memeluknya dan mengatakan kepadanya bahwa semua hal akan menjadi baik-baik saja sebagaimana yang dulu kau selalu lakukan, tapi kali ini, kamu tidak ada di sana untuk melakukannya, semuanya kelam sekarang karena kau telah pergi dan nilainya turun, dia jarang pergi ke sekolah lagi dan dia berakhir di sebuah rumah sakit setelah menelan begitu banyak pil karena dia ingin bertemu denganmu lagi.

Teman-teman perempuanmu yang seringkali menghina caramu berpakaian merasakan tenggorokan mereka tersekat, mereka tidak bicara satu sama lain lagi sejak saat itu, mereka tidak bicara kepada siapapun lagi, mereka semua berada dalam terapi, berusaha keras untuk tidak menyalahkan diri mereka tapi tidak ada satupun cara yang ampuh. Dan gurumu yang selalu menekanmu menatap kosong ke dinding, dia berhenti bekerja beberapa hari kemudian.

Dan pacarmu mendengar berita itu dan ia tidak dapat bernafas, dia masih sering menelponmu hanya untuk mendengar kembali suaramu dan dia bicara kepadamu melalui facebook tapi kamu tidak pernah membalas pesannya, dia tidak dapat jatuh cinta lagi karena setiap perempuan yang ia temui mengingatkannya akan dirimu, dia tidak akan pernah dapat mengakhiri cintanya padamu, dia mencintaimu dan dia menangis tersedu-sedu sebelum ia dapat tertidur setiap malamnya, membenci dirinya sendiri, dan menggores kulitnya karena ia tidak dapat menyelamatkanmu dan ia tak akan dapat lagi memelukmu atau mendengarmu tertawa lagi.

Sekarang, semua orang yang mengenalmu, entah mereka bagian besar dari hidupmu atau seseorang yang sekedar lewat di lorong beberapa kali dalam seminggu, mereka membawa perasaan nyeri yang begitu menyakitkan di dalam diri mereka karena kau telah tiada, dan mereka kehilanganmu, dan mereka tidak tau kenapa kau pergi tapi mereka pikir itu pasti salah mereka dan seharusnya mereka menghentikanmu dan mereka seharusnya mengatakan betapa mereka lebih mencintaimu dan perasaan itu tidak akan pernah pergi. Dan kau telah membunuh dirimu.

Tapi kau juga telah membunuh semua orang di sekitarmu juga.

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on pocket
Benny Prawira Siauw

Benny Prawira Siauw

Benny adalah seorang suicidolog dan penggiat kesehatan jiwa remaja dan populasi khusus lainnya. Sebagai Youth Mental Health and Suicide Prevention Advocate, Benny adalah Penggagas sekaligus Kepala Koordinator Into The Light Indonesia sejak 2013. Ia saat ini sedang menempuh pendidikan Magister Psikologi Sosial Kesehatan di Unika Atma Jaya (bukan seorang psikolog klinis untuk diagnosis dan terapi). Ia bercita-cita menjadi peneliti lapangan terkait aspek perilaku, struktur sosial dan budaya dalam kesehatan jiwa, terutama dalam pembahasan stigma dan faktor risiko bunuh diri. Baginya, kesehatan jiwa tidak dapat dipisahkan dari kesehatan fisik sebagaimana faktor personal individu tidak dapat dipisahkan dari faktor sosial makro. Di sela waktu senggangnya, ia suka berolahraga, tidur dan mengasah rasa dalam rangkaian kata.