Cegah Bunuh Diri dengan Pemberitaan yang Empati Terhadap Korban

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on pocket

Siaran Pers

Into The Light Indonesia

23 Maret 2017

Untuk disiarkan segera

 

Cegah Bunuh Diri dengan Pemberitaan yang Empati Terhadap Korban

Jakarta (23/03)–Pemberitaan bunuh diri di Indonesia membutuhkan angle yang berempati terhadap korban. Kegagalan dalam menampilkan angle yang berpihak kepada korban, terbukti bisa meningkatkan resiko orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri untuk melakukan tindakannya setelah membaca pemberitaan yang tidak empati dan cenderung mengglorifikasi dan melebih-lebihkan. Sebaliknya, pemberitaan bunuh diri yang disajikan dengan penuh empati dan disertakan dengan rujukan terhadap konseling terbukti dapat membantu orang dengan kecenderungan bunuh diri untuk mengurungkan niatnya dan tidak lagi merasa sendiri..

 

Saat ini, konseling bagi orang dengan kecenderungan bunuh diri masih sangat terbatas di Indonesia. Sementara bunuh diri sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang harus ditangani sesegera mungkin. Data dari International Association of Suicide Prevention menunjukkan bahwa setidaknya 800 ribu orang per tahun di seluruh dunia meninggal karena bunuh diri.. Ini berarti setiap 40 detik, terdapat 1 nyawa hilang karena bunuh diri. Lebih jauh lagi, dari setiap 1 orang yang bunuh diri, terdapat 25 orang yang melakukan percobaan bunuh diri.   Di Indonesia sendiri, diperkirakan setidaknya ada 9103 kematian bunuh diri di tahun 2012 (WHO, 2014). Dengan demikian, terdapat setidaknya 227.625 orang yang pernah mencoba bunuh diri.

 

“Dalam 1 minggu terakhir, terdapat setidaknya 2 kasus bunuh diri yang muncul di media dan menjadi pembicaraan masyarakat awam. Kasus PI dan IJ telah mendapatkan sorotan dari media dan terus menerus diberitakan secara simultan. Kami khawatir dengan dampak dari pemberitaan kedua kasus bunuh diri ini. Bunuh diri merupakan sebuah fenomena kompleks yang terjadi karena banyak faktor biologis, psikologis dan sosial yang berkaitan secara dinamis. Lebih dari 50 hasil riset dalam bidang suicidologi, sebuah keilmuan tentang bunuh diri dan pencegahannya, telah menunjukkan bahwa pelaporan berita bunuh diri di media dapat meningkatkan kemungkinan  individu untuk melakukan bunuh diri. Hal ini disebut sebagai Werther effect yang meningkatkan kemungkinan seorang individu, terutama yang memiliki depresi, melakukan bunuh diri imitasi setelah terpapar berita bunuh diri yang tidak sensitif terhadap korban”, tutur Benny Prawira Siauw selaku kepala koordinator Into The Light Indonesia.

 

World Health Organization dan banyak organisasi di seluruh dunia telah menerbitkan panduan peliputan bunuh diri bagi media yang aman. Termasuk di dalamnya apa yang disarankan dan tidak disarankan dalam pelaporan berita bunuh diri. Pelaporan berita bunuh diri yang aman ini mengandung Papageno effect dan telah teruji efektif dapat mencegah bunuh diri imitasi akibat paparan dari media.

 

“Kita semua harus mulai sadar bahwa fenomena bunuh diri tak hanya berdampak terhadap korban, namun juga orang sekitar. Penelitian menunjukkan, terdapat setidaknya 4 – 8 anggota keluarga inti yang terdampak oleh duka pasca kematian kematian bunuh diri dan juga mencakup15-20 orang dari keluarga besar dan jaringan sosial individu yang terkena dampak ini. Artinya, sekitar 28 orang terdampak akibat 1 kematian bunuh diri. Lebih jauh lagi, terdapat sedikitnya 254.940 orang terdampak akibat duka kehilangan pasca kematian bunuh diri di Indonesia. Sementara di sisi lain,stigma terhadap korban bunuh diri masih sangat kental, sehingga angka kematian oleh bunuh diri kerap ditutupi sehingga angka yang sesungguhnya diperkirakan jauh lebih besar”, pungkas Benny Prawira Siauw.

 

Tentang Into The Light Indonesia

Into The Light Indonesia adalah komunitas pencegahan bunuh diri yang digerakkan oleh orang muda lintas identitas dengan pendekatan berbasis bukti ilmiah dan hak asasi manusia. Into The Light memberikan pelayanan dalam bentuk edukasi, kampanye, penelitian, dan kerjasama dengan organisasi nasional dan international untuk kesehatan jiwa dan pencegahan bunuh diri. Kegiatan yang rutin dilakukan juga mencakup seminar, pelatihan, diskusi, dan kemitraan bersama organisasi kesehatan jiwa.

Panduan Peliputan Berita Bunuh Diri

Untuk informasi lebih lanjut, silakan kontak:

Benny Prawira

intothelight.email@gmail.com

Facebook – IntoTheLightID
Twitter – @IntoTheLightID
http://intothelightid.wordpress.com

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on pocket
Benny Prawira Siauw

Benny Prawira Siauw

Benny adalah seorang suicidolog dan penggiat kesehatan jiwa remaja dan populasi khusus lainnya. Sebagai Youth Mental Health and Suicide Prevention Advocate, Benny adalah Penggagas sekaligus Kepala Koordinator Into The Light Indonesia sejak 2013. Ia saat ini sedang menempuh pendidikan Magister Psikologi Sosial Kesehatan di Unika Atma Jaya (bukan seorang psikolog klinis untuk diagnosis dan terapi). Ia bercita-cita menjadi peneliti lapangan terkait aspek perilaku, struktur sosial dan budaya dalam kesehatan jiwa, terutama dalam pembahasan stigma dan faktor risiko bunuh diri. Baginya, kesehatan jiwa tidak dapat dipisahkan dari kesehatan fisik sebagaimana faktor personal individu tidak dapat dipisahkan dari faktor sosial makro. Di sela waktu senggangnya, ia suka berolahraga, tidur dan mengasah rasa dalam rangkaian kata.