Lingkar Studi Suicidologi: Bagaimana Peranan Agama Dalam Bunuh Diri?

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on pocket

Data dari International Association of Suicide Prevention menunjukkan bahwa setidaknya 800 ribu orang per tahun di seluruh dunia meninggal karena bunuh diri. Ini berarti setiap 40 detik, terdapat 1 nyawa hilang karena bunuh diri. Lebih jauh lagi, dari setiap 1 orang yang bunuh diri, terdapat 25 orang yang melakukan percobaan bunuh diri. Pada tahun 2012 diperkirakan setidaknya ada 9.103 kematian bunuh diri di Indonesia (WHO, 2014). Dengan demikian, terdapat setidaknya 227.625 orang yang pernah mencoba bunuh diri.

Di Indonesia, pemikiran atau tindakan seseorang yang melakukan bunuh diri banyak dihubungkan dengan kurangnya iman atau kedekatan seseorang dengan agama mereka. Melalui diskusi bulanan “Lingkar Studi Suicidologi” yang diadakan pada 29 Juli 2017, di Digital Innovation Lounge, Depok, Steven Cokro, S.Psi dari Into The Light Indonesia akan membahas peran agama dalam pencegahan bunuh diri. Apakah benar agama dapat melindungi seseorang dari bunuh diri? Atau mungkinkah agama justru dapat menjadi bumerang yang mendorong seseorang melakukan tindakan bunuh diri?

Berdasarkan kajian yang dilakukan Into The Light Indonesia, dapat disimpulkan bahwa afiliasi agama tidak berpengaruh terhadap pemikiran bunuh diri seseorang, tetapi dapat melindungi dari tindakan percobaan bunuh diri. Hal ini tergantung pada persepsi individu terhadap agama yang dianutnya. Mereka yang memiliki persepsi positif terhadap agama terbukti memiliki pemikiran bunuh diri yang lebih rendah sehingga dapat terlindungi dari tindakan percobaan bunuh diri. Namun ketika seseorang memiliki hubungan atau persepsi yang buruk terhadap agama maka hal ini justru dapat membuat seseorang melakukan bunuh diri. Ajaran suatu agama atau kepercayaan yang melarang umatnya untuk bunuh diri dapat mejadi faktor pelindung namun juga dapat menjadi bumerang saat seseorang menganggap agama tidak lagi mampu memberikan jalan keluar bagi permasalahan-permasalahan yang dihadapinya.

Dalam diskusi ini Steven juga akan membahas pengaruh budaya terhadap kemampuan agama mencegah tindakan bunuh diri. Kemampuan protektif dari agama akan berbeda-beda tergantung budaya di tempat agama atau kepercayaan itu berada. Jurnal studi tahun 2016 oleh Lawrence Oquendo dan Stanley mengenai kaitan resiko bunuh diri dan agama menyebut ketika seseorang menganut agama atau kepercayaan minoritas mengalami diskriminasi karena agama yang dianutnya, maka ini dapat menjadi faktor resiko kerentanan bunuh diri yang tinggi pada orang tersebut.

Tentang Into The Light Indonesia

Into The Light Indonesia adalah komunitas pencegahan bunuh diri yang digerakkan oleh orang muda lintas identitas dengan pendekatan berbasis bukti ilmiah dan hak asasi manusia. Into The Light memberikan pelayanan dalam bentuk edukasi, kampanye, penelitian, dan kerja sama dengan organisasi nasional dan internasional untuk kesehatan jiwa dan pencegahan bunuh diri. Kegiatan yang rutin dilakukan juga mencakup seminar, pelatihan, diskusi, dan kemitraan bersama organisasi kesehatan jiwa.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan kontak:
Malik Abdul: +62 899-5085-058
Surel: intothelight.email@gmail.com
Facebook: IntoTheLightID
Twitter: @IntoTheLightID
Blog: https://intothelightid.wordpress.com

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on pocket
Malik Abdul

Malik Abdul

Aktif dalam beberapa komunitas yang mengangkat isu hak asasi manusia, Malik merupakan seseorang yang memiliki passion tinggi dalam humanitarian. Ia berharap suatu saat nanti bisa menjadi suara bagi orang-orang yang tidak dapat menyuarakan pendapatnya, dan membawa perubahan ke arah yang lebih baik.