Venny: Kesehatan Jiwa untuk Remaja Dorong Toleransi di Indonesia

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pocket

Jakarta, 1/7 – Into The Light Indonesia turut hadir dalam diskusi bersama dan audiensi antara komunitas orang muda dengan Pemerintah Republik Indonesia, di Kantor Staf Presiden Republik Indonesia, Selasa (26/6) lalu. Diinisiasi oleh We The Youth dan Youth Labolatory Indonesia, diskusi bersama ini diadakan untuk membahas mengenai penyebaran radikalisme di kalangan anak muda. Peserta diskusi bersama berasal dari berbagai komunitas dan lembaga advokasi untuk orang muda dari Jakarta, Bandung, Medan, Makassar, Bali, dan Pekanbaru.

Hadir mewakili presiden, diantaranya Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia Jend. (Purn) TNI Dr. Moeldoko, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, serta perwakilan dari BIN, BNPT, dan BAIS TNI.

Dalam diskusi dan audiensi ini, Into The Light Indonesia adalah satu-satunya komunitas anak muda yang membawa perspektif kesehatan jiwa. Acara ini juga menjadi bagian dari advokasi divisi Task Force Into The Light Indonesia untuk isu pencegahan bunuh diri di tingkat nasional.

Terkait isu radikalisme di kelompok anak muda, Venny Asyita, Koordinator Divisi Task Force, berpendapat bahwa kesadaran atas kesehatan jiwa dapat mendorong perilaku dan lingkungan yang sehat, serta mempromosikan toleransi antar individu. Lebih lanjut lagi, menurut Venny, Indonesia sudah mempunyai Undang-undang Kesehatan Jiwa yang sangat bagus, sangat komprehensif dan menunggu untuk diimplementasikan dengan menyeluruh.

“Kesehatan jiwa itu sifatnya tidak hanya kuratif atau rehabilitatif. Lebih dari itu, kesehatan jiwa juga dapat mempromosikan critical thinking, toleransi dan – yang paling penting – dapat menyelamatkan generasi bangsa. 6% anak Indonesia umur 13-17 [tahun] pernah merencanakan bunuh diri. Bunuh diri adalah puncak permasalahan sosial. Bayangkan apa yang terjadi di balik ini semua,” tutur Venny.

“Kita tidak pernah membicarakan kesehatan mental sehingga anak-anak kekurangan alternatif, bahkan khawatir akan mendapatkan stigma apabila memiliki masalah kejiwaan. Maka bisa dipahami, apabila mereka memilih mendekatkan diri pada kelompok-kelompok yang mampu memberikan mereka hubungan interpersonal yang dirasa lebih bermakna, seperti kelompok agama radikal misalnya.”

“Promosi kesehatan jiwa sudah kami lakukan bersama dengan organisasi-organisasi muda lainnya, tapi intervensi yang sifatnya top-down tetap sangat dibutuhkan. Undang-undangnya sudah ada, Bapak Presiden bisa membuat Peraturan Presiden untuk mengoordinasi jajarannya, menjaga kesehatan jiwa bangsa ini dengan komprehensif dan terstruktur,” kata Venny Asyita, sebagai perwakilan Into The Light Indonesia dalam audiensi ini.