Polemik “Kapan Menikah?”

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pocket

Ketika memasuki usia dewasa, pertanyaan seputar persoalan pribadi, seperti “Kapan kawin?”, “Kapan menikah?”, atau “Kapan punya anak?” kerap kali muncul dalam percakapan antara anggota keluarga inti maupun keluarga besar saat berkumpul. Pertanyaan tersebut sering ditanyakan dengan niat tulus yang diawali oleh rasa peduli ataupun keinginan untuk mencairkan suasana.

Tanpa disadari, pertanyaan yang menyinggung hidup pribadi seseorang dapat dipandang sebagai pembahasan sensitif yang memberi rasa tidak nyaman bagi individu tersebut. Selain itu, pertanyaan seputar persoalan pribadi dapat memberi tekanan bagi individu yang ditanya, sehingga terkadang mengakibatkan timbulnya stres.

Membuat keputusan hidup yang besar, seperti memilih untuk menikah dan punya anak, membutuhkan persiapan yang matang. Persiapan yang matang dibutuhkan agar kita dapat memastikan bahwa keputusan yang akan diambil merupakan keputusan yang tepat bagi kita.

Studi mengatakan bahwa stabilitas suatu hubungan dipengaruhi besar oleh kemampuan pasangan untuk saling mengenal, berkomunikasi dengan baik, dan berkomitmen tinggi (Lauer, Lauer, & Kerr, 1990; Swensen, Eskew, & Kohlhepp, 1984). Akan tetapi, aspek tersebut pada umumnya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk berkembang. Selain itu, waktu terbentuknya suatu keluarga memiliki hubungan yang erat dengan aspek kehidupan lainnya yang signifikan, seperti kemungkinan terjadinya perceraian (Martin & Bumpass, 1989; Teachman, 2002).

Menyaksikan teman-teman terdekat kita yang sudah menikah dan ditambah mendengar pertanyaan seperti “Kapan menikah?” dapat mempengaruhi kita untuk mengambil keputusan yang besar dalam waktu yang cepat. Sejatinya, hidup bukan suatu lomba, sehingga dalam mengambil keputusan hidup yang besar, kita tidak perlu beradu cepat dengan orang lain.

Saat pertanyaan “Kapan menikah?” diutarakan, terdapat dua peran — yang bertanya dan yang ditanya. Jika kita pernah menjadi orang yang bertanya, akan lebih baik jika kita membicarakan topik yang bersifat umum daripada topik yang sensitif, kecuali saat orang tersebut bersedia untuk membahasnya tanpa adanya paksaan. Contoh topik yang bersifat umum, misalnya kegiatan yang sedang dilakukan oleh orang tersebut atau keadaan mereka belakangan ini. Selain itu, kita juga dapat menjadi pendengar aktif yang tidak hanya mendengar, namun juga memahami konten yang sedang disampaikan oleh pembicara.

Lalu, apa yang dapat kita lakukan jika kita mengalami stres akibat tekanan keluarga terkait pernikahan? Salah satu strategi yang dapat digunakan diantaranya adalah dengan mencari dukungan sosial atau social support dari kerabat terdekat yang tepercaya. Mencurahkan hati kepada teman yang pengertian dan tepercaya merupakan salah satu bentuk dukungan sosial, yang dapat memberi rasa nyaman dan rasa kebersamaan (sense of belongingness). Dukungan sosial terbukti mampu untuk ‘melindungi’ seseorang dari emosi negatif yang disebabkan oleh stres (Sarafino & Smith, 2011).

Referensi

Lauer, R. H.,  Lauer, J. C., & Kerr, S. T. (1990). The Long-Term Marriage: Perceptions of Stability and Satisfaction. International Journal of Aging and Human Development, 31(3), 189-195. DOI: 10.2190/H4X7-9DVX-W2N1-D3BF

Martin, T., C. (1989). Recent Trends in Marital Disruption. Demography, 26(1), 37-51.

Sarafino, E. P., & Smith, T. W. (2011). Health Psychology: Biopsychosocial Interaction (7th ed.).  Hoboken, NJ: John Wiley & Sons.

Swensen, C. H., Eskew, R. W., & Kohlhepp, K. A. (1984). Five factors in long-term marriages. Lifestyles, A Journal of Changing Patterns, 7(2), 94-106. DOI: 10.1007/BF00981911Z.

Teachman, J. D. (2002). Stability Across Cohorts in Divorce Risk Factors. Demography, 39(2), 331-351. DOI: 10.1353/dem.2002.0019.