Bahaya Abusive Relationship yang Sering Tidak Kita Sadari

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pocket

Beberapa saat yang lalu, media sosial diramaikan dengan kasus penganiayaan kepada seorang wanita oleh pacarnya sendiri. Dalam storygram-nya, wanita tersebut memperlihatkan luka lebam di matanya dan menambahkan sedikit keterangan mengenai apa yang terjadi. Namun, wanita tersebut enggan menjadikannya kasus hukum karena lebih merasa kasian pada pelaku dan keluarganya. Kasus ini termasuk dalam kategori abusive relationship.

Abusive relationship adalah suatu hubungan yang disertai dengan tindakan kekerasan yang sengaja dilakukan dan ditujukan kepada pasangan. Abusive relationship mencakup bukan hanya kekerasan secara fisik, namun juga secara emosional, finansial, verbal, maupun seksual.

Abusive relationship biasanya diawali dengan pelaku yang mulai menjauhkan pasangannya dari orang-orang sekitarnya. Pelaku juga memainkan emosi korban, sehingga korban lebih sering merasa bersalah jika bertindak tidak sesuai dengan keinginan pelaku. Pelaku juga biasanya merasa paling tersakiti dan merasa menjadi korban didalam hubungan, dan lebih parahnya lagi pelaku mulai melakukan kekerasan secara verbal sampai fisik.

Salah satu adegan dalam film Posesif. Sumber: cenayangfilm.wordpress.com

Apa masih ingat pada film “Posesif” yang tayang akhir tahun lalu? Nah, film itu cukup menggambarkan keadaan abusive relationship dalam pacaran. Yudhis yang awalnya kelihatan baik lama-lama mengekang Lala, mulai menjauhkan Lala dari keluarganya dan akhirnya malah menghalangi Lala untuk berprestasi. Apalagi, kalimat manipulatif Yudhis ini yang diucapkan berulang kali: “Cuma aku yang cinta kamu di dunia, aku nggak akan ninggalin kamu, cuma aku yang ngerti dan bakal melindungi kamu.” Kalimat tersebut membuat Lala percaya bahwa dia tidak mampu hidup tanpa Yudhis.

Fase yang sering terjadi adalah saat korban mulai sadar dan ingin meninggalkan pelaku, pelaku biasanya akan bersikap manis, meminta maaf dan berjanji tidak akan seperti itu lagi, namun kekerasan itu akan kembali berulang. Pada banyak kasus, biasanya korban sulit untuk lepas dari pelaku karena merasa rendah diri, tidak mampu hidup berpisah dari pelaku sehingga memilih untuk memaafkan pelaku dan percaya bahwa pelaku akan berubah.

Abusive relationship ini tidak cuma terjadi dalam hubungan pacaran, namun juga dapat terjadi di pasangan yang sudah menikah. Hal yang lebih menyulitkan lagi, ketika sudah menikah dan korban ingin berpisah dari pasangan yang seperti ini, masih banyak stigma dari masyarakat yang menganggap perceraian adalah tindakan yang kurang pantas sehingga korban akhirnya tetap berada dalam lingkaran hubungan yang toxic. Anak kadang juga dijadikan alasan untuk bertahan agar mempunyai keluarga yang lengkap. Padahal, hal itu dapat mengganggu keadaan psikologis anak saat anak melihat adanya kekerasan pada orang tua mereka.

Abusive relationship ini sebenarnya cukup sering terjadi di masyarakat. Komnas Perempuan mencatat pada tahun 2017, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan meningkat 25% dari tahun sebelumnya, yaitu sebanyak 348.446 kasus di seluruh Indonesia. Ini menunjukkan bahwa korban mulai mau membuka diri untuk melapor, namun tetap saja masih ada yang enggan untuk membawa perkara ini ke ranah hukum. Dukungan sosial dari orang sekitar memainkan peranan penting untuk korban agar bisa keluar dari abusive relationship.

Nah, di sinilah peran kita untuk membantu korban. Apakah itu kamu atau orang terdekatmu?