Stigma Terhadap ODGJ Perlu Dihapus

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on pocket

Ilustrasi: “Schizophrenia Painting” oleh goodgirl94.deviantart.com.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, stigma adalah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya. Misalnya, seorang anak lama-lama akan menganggap dirinya bodoh jika selalu dikatai atau diberi stigma bodoh oleh orang-orang di sekitarnya.

Begitu pula, stigma terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) harus dihapus agar ODGJ itu sendiri bisa berkembang dan berdikari sehingga tidak menyusahkan banyak orang.

Banyak anggapan bahwa ODGJ tidak layak dipercaya dan diberi tanggung jawab karena “ketidakwarasan” otaknya. Banyak pula anggapan bahwa ODGJ itu karena kurang iman, zikirnya kurang, kebanyakan bengong, ibadahnya kurang khusyuk, dan masih banyak lagi. Saya bisa mengatakan dua contoh di atas, karena saya mengalami sendiri cemoohan tersebut.

“Ada makhluk halus yang mengikuti kamu”

Sebelum saya akhirnya dibawa ke psikiater di Rumah Sakit Haji oleh kedua orang tua saya pada April 2014, saya dibawa ke berbagai paranormal, “orang pintar”, bahkan dukun. Orang tua saya dahulu beranggapan bahwa “sakit” saya adalah pengaruh mistis, maka saya harus menjalani berbagi macam ritual klenik.

Ritual klenik itu mulai dari mandi kembang, potong kambing, mencabut pohon, menanam sajen di halaman rumah, setiap pintu masuk di rumah ditempeli jimat, mandi air garam, disuruh minum air yang sudah dicelupkan tulisan ayat-ayat suci, digosok punggungnya dengan batu dan keris, dirukiah, hingga lantai kamar saya ditaburi garam laut, sampai pada titik saya muak dengan semua itu dan mencari referensi dari sudut pandang yang masuk akal.

Rata-rata paranormal, dukun dan “orang pintar” itu beranggapan sama mengenai penyakit saya. Mereka bilang bahwa saya ditempeli jin atau ada makhluk halus yang mengikuti saya.

Kenyataan mencerahkan baru saya dapatkan setelah saya ke psikiater dan didiagnosis bahwa saya mengalami skizofrenia paranoid. Saya diberikan resep berupa obat racikan yang sangat kuat efek sampingnya, sampai-sampai saya jadi kaku seperti robot, leher susah untuk menengok, tangan gemetar, sering ngompol malam-malam, dan tidur terlalu banyak.

Setelah saya didiagnosis oleh psikiater, barulah orangtua saya terbuka pikirannya, bahwa penyakit saya ini memang layaknya penyakit fisik biasa. Hanya saja, sakitnya menyerang zat kecil dalam otak saya yang bernama neurotransmiter. Akhirnya stigma dari keluarga terdekat perlahan-lahan berkurang.

Walaupun stigma dari keluarga inti berkurang, saya tetap belum diperbolehkan menyetir sepeda motor atau mobil. Mereka takut saya lepas kendali, lalu mencelakakan diri saya maupun orang lain. Keinginan saya untuk bisa menyetir pun terpaksa saya pendam. Saya hanya menunggu waktu yang tepat untuk mewujudkannya.

Itulah yang saya maksud dengan stigma terhadap ODGJ, bahwa mereka dianggap tidak layak dipercaya atau diberi tanggung jawab, dan saya sendiri mengalami itu.

Ilustrasi

“Cowok mana yang mau sama kamu?”

Ada dua pengalaman lain, dimana saya distigma oleh dokter umum dan dokter gigi.

Pada pengalaman pertama dengan dokter umum, sewaktu dokter bertanya “Apakah saya mengonsumsi obat?”

Saya jawab, “Ya, saya konsumsi antipsikotik.”

Lalu, dokter itu bertanya, “Mengapa kamu mengonsumsi obat itu?”

Saya jawab, “Karena saya mengidap skizofrenia paranoid.”

Lalu dokter itu berkata, “Pasti sholatnya kurang khusyuk nih, zikirnya rajin nggak? Percaya nggak? Dulu saya depresi dan sekarang bisa sembuh tanpa obat-obatan.”

Saya percaya kalau depresi ringan memang bisa sembuh tanpa obat-obatan karena saya memang pernah membaca bukunya Profesor Arita Hideho, dimana beliau menerangkan bahwa training serotonin bisa menyembuhkan depresi ringan. Tetapi, bagaimana dengan skizofrenia paranoid yang merupakan gangguan jiwa berat, yang membutuhkan obat untuk menormalkan kelebihan kadar dopamin di otaknya? Bukankah penderita skizofrenia itu sama dengan penderita diabetes atau darah tinggi yang harus selalu minum obat? Kenapa perlakuannya harus berbeda?

Dokter umum itu menekankan, “Apakah kamu mau selamanya minum obat? Memang kamu tidak mau menikah? Memang kamu tidak mau hamil dan punya anak? Kira-kira cowok mana yang mau sama cewek yang mengonsumsi obat-obatan?”

Saya diam saja dan tidak menjawab. Buat saya, percuma orang cupet macam begitu dijawab. Dari awal sudah ada perbedaan pola pikir yang mendasar antara kita berdua. Maka saya pun pergi setelah saya menerima resep batuk dan demam saya.

“Saya benar-benar tak habis pikir”

Stigma berikutnya saya dapatkan dari dokter gigi langganan saya. Pembicaraan antara saya dan dokter gigi saya seperti biasanya mengalir sampai pada titik saya menjawab,

“Saya skizofrenia paranoid.”

Respons berikutnya adalah “Hooo, jangan-jangan ada jin atau setan yang nempelin tuh.”

“Lagi-lagi begini”, batin saya.

Setelah selesai periksa gigi, saya pun digambari denah menuju seorang pijat tunanetra yang bisa mendeteksi adanya gangguan makhluk halus di tubuh kita. Rasanya saat itu saya ingin menghela napas keras-keras. Saya pulang pun dengan tersenyum sambil pura-pura menyetujui idenya.

“Diperlakukan sama dan adil”

Bayangkan? Dua orang dokter yang harusnya terpelajar dan memiliki penalaran logis masih saja percaya hal-hal klenik begitu. Saya benar-benar tak habis pikir.

Maka dari itu, inilah pentingnya untuk mengembangkan seluas-luasnya kepedulian mengenai kesehatan jiwa, agar hal-hal tak menyenangkan seperti stigma yang saya alami tak perlu dialami banyak orang. Saya ingin menuliskan pengalaman dan pemikiran saya ke media tulis agar dibaca sebanyak-banyaknya orang, sehingga bisa mengikis stigma terhadap ODGJ di masyarakat.

Seperti yang saya ungkapkan di awal tadi, bahwa seorang anak akan menjadi bodoh bila terus-menerus diejek bodoh. Begitupun bila ODGJ distigma gila, bodoh, tidak layak, aneh, kurang iman, kurang ibadah, ditempeli jin – stigma macam-macam seperti itu akan membuat ODGJ makin terpuruk dan kehilangan kepercayaan dirinya. Hidup dengan menyandang ODGJ saja sudah berat apalagi harus ditambah dengan stigma. Agar ODGJ diperlakukan sama dan adil layaknya orang normal, ODGJ harus berhenti menerima stigma dari lingkungannya.

Dengan hilangnya stigma, ODGJ menjadi pribadi yang kuat dan tidak rapuh, sehingga ia mampu berdikari dan tidak terus-menerus bergantung kepada keluarga inti yang tersisa sepanjang hidupnya.

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on pocket
Winaring Suryo Satuti

Winaring Suryo Satuti

Wina adalah seorang pengidap skizofrenia paranoid. Kesibukan sehari-harinya adalah sebagai tutor freelance matematika di sebuah lembaga bimbingan belajar. Hobi wina adalah menulis, membaca, dan menyayangi kucing. Sayang keinginannya memelihara kucing telon berhidung pink sejak kecil belom kesampaian sampai sekarang. Wina bisa dihubungi melalui facebook: @Winaring Suryo Satuti