Surat dari Kami 2018: Bekerja Bersama untuk Mencegah Bunuh Diri

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on pocket

Dalam kesempatan ini, mari kita semua menyediakan waktu sejenak untuk mengenang mereka yang telah pergi sebelum kita dengan seluruh rasa sakit di hatinya. Seluruh rasa sakit yang membuatnya tidak mampu lagi memilih selain melihat kematian sebagai cara untuk mengakhirinya. Telah banyak upaya dan riset dilakukan terkait pencegahan bunuh diri. Meskipun demikian, data masih menunjukkan satu nyawa meninggal karena bunuh diri setiap 40 detik di seluruh dunia. Tentu para pakar pencegahan bunuh diri berkejaran dengan waktu untuk menyediakan pengetahuan terkini dan memformulasikan bentuk tindakan pencegahan bunuh diri yang terbaik.

Ketika kita bicara mengenai pengetahuan terbaru, seringkali kita juga mendapatkan kabar yang terdengar tidak mengenakkan mengenai bunuh diri. Hingga saat ini, setelah 50 tahun riset bunuh diri dilakukan, peneliti masih berusaha menemukan cara yang lebih baik dalam memprediksi kemunculan perilaku bunuh diri (Franklin, dkk, 2017).

Di kawasan ASEAN, khususnya Indonesia, sebuah riset terkini mencatat 6,9% dari sampel mahasiswa berusia 18-30 tahun memiliki pemikiran bunuh diri dan setidaknya 3% di antara mereka pernah mencoba bunuh diri (Peltzer & Pengpid, 2017). Mereka yang mengalami kekerasan seksual di masa kanak-kanak, mereka yang dihantui gejala depresi, mereka yang pernah terlibat dalam pertengkaran fisik, mereka yang memiliki performa akademik yang lebih rendah dari standar, cenderung memiliki perilaku bunuh diri dalam hidup mereka. Tentunya, riset ini mengungkap masih banyak ‘mereka-mereka’ lainnya dengan masalah berbeda yang juga memiliki kecenderungan perilaku bunuh diri.

Dari semua riset ini, setidaknya kita mengetahui betapa banyak faktor yang berhubungan dengan risiko bunuh diri pada orang muda. Untuk dapat mengatasi hal ini, maka kita perlu tindakan pencegahan bunuh diri yang lebih efektif dengan mempertimbangkan pentingnya kerjasama dari lapisan keluarga, institusi pendidikan, institusi agama, pemerintah, hingga kelompok kemasyarakatan lainnya yang bekerja untuk kesejahteraan bersama masyarakat kita.

Mencegah bunuh diri hanya dapat dilakukan dengan baik jika kita mau bergerak bersama. Ini adalah tugas kita bersama.

Hal ini sesuai dengan tema Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia 2018, “Bekerja Bersama untuk Mencegah Bunuh Diri”. Tema ini menekankan pentingnya kita untuk mulai bergandengan tangan dalam mengangkat isu pencegahan bunuh diri ke berbagai lini.

Ada suara-suara di tengah kegelapan yang selama ini tidak kita dengar. Mereka yang sedang memiliki beban berat, mereka yang bingung harus mencari bantuan kemana, dan mereka yang mulai kehilangan harapan bertanya-tanya bantuan apa yang dapat mencerahkan kembali harapan dalam diri mereka. Sepanjang tahun ini juga, kita telah dikejutkan berbagai macam berita bunuh diri dari selebritas dunia. Pertanyaannya adalah apakah kita sudah mendengarkan ketika mereka mulai bicara? Atau, mungkin mereka sudah bicara selama ini di ruang sekitar kita, namun kita belum cukup berkerja bersama mereka untuk mencegah bunuh diri di masa depannya?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak hanya sekedar membutuhkan jawaban. Pengetahuan terbaru saja tidak cukup. Kita perlu tindakan yang nyata dari kita semua. Sekarang adalah saatnya untuk kita bertindak untuk lebih banyak mendengar mereka, untuk berkerja bersama mereka dengan melibatkan lebih banyak penyintas percobaan dan kehilangan bunuh diri, serta memastikan terbentuknya kerjasama lintas sektor dan lintas isu agar tindakan pencegahan bunuh diri dapat lebih komprehensif dan adekuat ke depannya.

Pencegahan bunuh diri adalah isu yang sangat rumit dan kompleks untuk dapat kita atasi sendiri. Into The Light Indonesia tidak dapat mengatasinya sendirian. Pencegahan bunuh diri tidak dapat diatasi hanya dengan kehadiran komunitas kesehatan jiwa semata. Kita semua mengetahui bahwa kematian di tangan sendiri adalah sebuah tragedi, namun bunuh diri sangat dapat dicegah jika kita dapat berkerja bersama dengan lebih kuat lagi. Mencegah bunuh diri hanya dapat dilakukan dengan baik jika kita mau bergerak bersama. Ini adalah tugas kita bersama.

Di tengah keterbatasan sumber daya kita, di tengah tidak adanya sistem pencatatan kematian bunuh diri, dan sistem pelayanan krisis bunuh diri, pada akhirnya kita harus bekerja bersama agar sistem pencegahan bunuh diri ini dapat bekerja dengan lebih efektif.

Di saat kita tidak memiliki banyak hal, setidaknya kita masih memiliki satu sama lain. Kita hanya memiliki satu sama lain. Menyadari ini semua, sekaranglah saatnya kita bekerja bersama untuk mencegah bunuh diri.

Dengan cahaya dan cinta untuk Anda,
2 September 2018

Benny Prawira

Kepala Koordinator Into The Light Indonesia

 

Referensi

Franklin, J. C., Ribeiro, J. D., Fox, K. R., Bentley, K. H., Kleiman, E. M., Huang, X., K.M. Musacchio, Jaroszweski, A.C., Chang, B.P, & Nock, M.K. (2017). Risk Factors for Suicidal Thoughts and Behaviors: A Meta- Analysis of 50 Years of Research. Psychological Bulletin 143(2):187-232. https://doi.org/10.1037/bul0000084

Peltzer, K., Yi, S., & Pengpid, S. (2017). Suicidal behaviors and associated factors among university students in six countries in the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). Asian Journal of Psychiatry, 26(1), 32–38. https://doi.org/10.1016/j.ajp.2017.01.019

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on pocket
Benny Prawira Siauw

Benny Prawira Siauw

Benny adalah seorang suicidolog dan penggiat kesehatan jiwa remaja dan populasi khusus lainnya. Sebagai Youth Mental Health and Suicide Prevention Advocate, Benny adalah Penggagas sekaligus Kepala Koordinator Into The Light Indonesia sejak 2013. Ia saat ini sedang menempuh pendidikan Magister Psikologi Sosial Kesehatan di Unika Atma Jaya (bukan seorang psikolog klinis untuk diagnosis dan terapi). Ia bercita-cita menjadi peneliti lapangan terkait aspek perilaku, struktur sosial dan budaya dalam kesehatan jiwa, terutama dalam pembahasan stigma dan faktor risiko bunuh diri. Baginya, kesehatan jiwa tidak dapat dipisahkan dari kesehatan fisik sebagaimana faktor personal individu tidak dapat dipisahkan dari faktor sosial makro. Di sela waktu senggangnya, ia suka berolahraga, tidur dan mengasah rasa dalam rangkaian kata.