Membangun Kekuatan Psikologis dengan Olahraga

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pocket

Kita tentunya mengetahui betapa berharganya aktivitas fisik terhadap kesehatan kita. Sebagaimana kita sering mendengarnya di berbagai macam tempat dan media, olahraga dapat mencegah penyakit degeneratif dan memperpanjang usia harapan hidup. Olahraga pun dikenal berkaitan dengan kesehatan jiwa kita, sesuai dengan pepatah “Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat”.

Olahraga memang dapat membantu kita untuk membangun kekuatan psikologis. Kekuatan psikologis tersebut bermanfaat untuk membantu kita menghadapi tantangan dan tekanan hidup, serta memelihara kesehatan jiwa kita.

Ayo, saatnya bangun kekuatan fisik dan kekuatan jiwa bersama-sama dalam “Freshen Up Your Mind“! Kita akan berolahraga pagi bersama dengan Workout Embassy, serta kesempatan untuk konsultasi psikologi GRATIS bersama Ibunda.id dan Jemari Tangan!
Minggu, 23 September 2018 – 06:00 s/d 10:00 WIB

Kekuatan Psikologis yang Dibangun Olahraga

Bagi kita yang rutin berolahraga, kita mungkin menyadari bahwa suasana hati kita menjadi lebih baik setelah berolahraga. Kita merasa bersemangat, lega, atau mungkin tenang bahkan bahagia. Hal ini dikarenakan adanya peningkatan jumlah hormon dan neurotransmitter yang berperan dalam perbaikan suasana hati di tubuh kita[1]. Perbaikan suasana hati ini dapat membantu kita untuk menjalani hidup dengan lebih ringan, mengambil keputusan yang lebih baik, serta lebih mampu menghadapi tekanan dalam hidup.

Rutin berolahraga juga membangun keyakinan kita bahwa kita mampu untuk menyelesaikan suatu target yang kita tetapkan untuk diri kita[1,2]. Misalnya, kita menetapkan target untuk dapat berlari sejauh 5 km, padahal sebelumnya tidak pernah berlari. Kita kemudian berlatih secara teratur untuk dapat mencapainya. Ketika kita akhirnya mampu berlari sejauh 5 km, kita merasa mampu untuk melakukan apa yang sebelumnya kita bayangkan tidak dapat kita lakukan. Hal ini dapat menambah kepercayaan diri kita untuk menjalani hidup kita dan meraih apa yang menjadi panggilan dalam hati kita.

Olahraga teratur dapat membantu kita untuk meningkatkan kontrol diri dan kemampuan kita untuk menahan keinginan demi tujuan lebih besar di masa mendatang[3]. Hal ini terkait juga dengan target yang kita tetapkan. Misalnya, kita ingin dapat berlari tanpa henti sejauh 5 km. Selama proses berlatih, terutama di awal-awal latihan, kita mungkin tergoda untuk menyerah dan tidur daripada memaksakan kaki yang sudah pegal untuk berlari. Kita merasa akan lebih menyenangkan untuk hang out dengan teman-teman kita dan makan seloyang pizza pada waktu dimana kita semestinya berlatih. Namun, ketika kita fokus pada target, kita dapat menunda keinginan sementara untuk bermalas-malasan atau hang out dan meluangkan waktu untuk berlatih. Dengan demikian, kita melatih kemampuan kontrol diri dan penundaan keinginan sesaat kita.

Terkait dengan peningkatan kontrol diri dan penundaan, olahraga juga membantu kita untuk memiliki kualitas tidur yang lebih baik[4]. Tidur yang cukup dapat menyokong kemampuan kontrol diri kita. Tidur yang cukup juga dapat meningkatkan kestabilan emosi yang lebih baik, menghindarkan kita dari perasaan-perasaan negatif, seperti mudah tersinggung yang seringkali muncul ketika kita kurang tidur[3]. Kita mungkin mengamati ketika kita kurang tidur, kita cenderung mudah murung dan cenderung mengambil tindakan tanpa pemikiran yang matang.

Berolahraga juga memungkinkan kita untuk meningkatkan kualitas sosial dengan orang lain. Hal ini berarti, kita mendapatkan kesempatan untuk menjalin hubungan yang suportif dengan orang lain. Ketika kita bertemu dengan orang yang tepat, kita dapat berbagi permasalahan yang mengganggu kehidupan kita dan mendapatkan dukungan bahkan bantuan. Hal ini dapat membantu kita dalam menghadapi masalah tersebut hingga kondisi kita pulih. Di sisi lain, adanya kelompok sosial yang suportif dapat membuat kita bersemangat berolahraga teratur, sehingga kekuatan psikologis kita terbangun.

Berolahraga yang Efektif

Olahraga aerobik (contoh: jalan cepat, lari, menari, renang) maupun nonaerobik (contoh: yoga, angkat beban) sama-sama dapat membantu membangun kekuatan psikologis kita. Untuk membangun kekuatan psikologis dari olahraga, kita dianjurkan untuk berolahraga secara teratur.

Berolahraga sekurang-kurangnya tiga kali seminggu selama setengah jam saja sudah dapat membangun kekuatan psikologis kita[1,5,6]. Tentunya, olahraga berlebihan malah justru tidak baik bagi kesehatan fisik dan jiwa kita. Olahraga berlebihan dapat membuat kita cidera, kelelahan, suasana hati buruk, atau bahkan kecanduan olahraga yang justru merusak kekuatan psikologis kita.

Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan

Berolahraga secara teratur memang dapat membangun kekuatan psikologis kita, yang kemudian meningkatkan kualitas hidup kita. Namun, kita perlu mawas diri apakah kita menggunakan olahraga sebagai sarana untuk mengalihkan diri atau menghindar dari penyelesaian masalah yang mengganggu kita. Misalnya, ketika kita pergi berolahraga untuk menghindar dari diskusi penyelesaian masalah dengan pasangan kita.

Olahraga seharusnya berfungsi membantu kita berpikir lebih jernih dalam menghadapi masalah. Jangan sampai kita berolahraga malah untuk menghindari pengelolaan emosi atau pikiran negatif yang menggangu hidup kita.

Kita juga perlu berhati-hati dalam menentukan target olahraga yang realistis. Jangan sampai kita menetapkan target yang terlalu tinggi yang membuat kita merasa buruk ketika tidak dapat mencapainya.

Selain itu, kita juga baiknya memeriksa diri kita, apakah kita malah justru berolahraga karena keinginan memiliki konsep tubuh ideal yang malah menyiksa kita, seperti keinginan untuk kurus dan selalu merasa tidak cukup kurus yang menyebabkan kita berolahraga berlebihan. Jika kita menemukan tanda-tanda ini, ada baiknya kita berkunjung pada profesional kesehatan.

Olahraga juga bukan untuk setiap orang. Beberapa dari kita mungkin memiliki kondisi fisik yang tidak memungkinkan untuk berolahraga. Jika kita tidak dapat berolahraga secara intensif, kita dapat melakukan aktivitas fisik lain yang lebih ringan seperti berjalan atau peregangan. Namun, jika kita memang tidak dapat melakukan aktivitas fisik sama sekali, kita masih tetap dapat membangun kekuatan psikologis kita melalui banyak cara lain.

Penutup

Olahraga dapat membantu kita membangun kekuatan psikologis yang meningkatkan kemampuan kita menghadapi tuntutan-tuntutan dalam hidup. Namun, ingatlah untuk melakukannya dengan cara dan durasi yang tepat. Olahraga tidak hanya bermanfaat bagi kita yang bergelut dengan masalah kesehatan jiwa, tetapi juga bagi kita yang ingin meningkatkan kesejahteraan hidup kita. Selamat berolahraga!

Referensi

[1] Craft, L. L., & Perna, F. M. (2004). The benefits of exercise for the clinically depressed. Primary Care Companion to the Journal of Clinical Psychiatry, 6(3), 104-111.

[2] Sonstroem, R. J., & Morgan, W. P. (1989). Exercise and self-esteem: rationale and model. Medicine and Science in Sports and Exercise, 21(3), 329-337.

[3] Weir, K. (2012). What you need to know about willpower: The psychological science of self-control. Retrieved from http://www.apa.org/helpcenter/willpower.pdf.

[4] Davidson, C. L., Babson, K. A., Bonn-Miller, M. O., Souter, T., & Vannoy, S. D. (2013). The impact of exercise on suicide risk: Examining pathways through depression, PTSD, and sleep in an inpatient sample of veterans. Suicide and Life-Threatening Behavior. Advance online publication. doi: 10.1111/sltb.12014.

[5] Cho, K. O. (2014). Physical activity and suicide attempt of South Korean adolescents – evidence from the Eight Korea Youth Risk Behaviors web-based survey. Journal of Sports Science and Medicine, 13, 888-893.

[6] Sharma, A., Madaan, V., & Petty, F. D. (2006). Exercise for mental health. Primary Care Companion to the Journal of Clinical Psychiatry, 8(2), 106.