Cyberbullying dan Kesehatan Jiwa pada Penyintas Setelah Dewasa

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pocket

Apakah kalian tau dampak dari tindakan cyberbullying? Mungkin beberapa dari kalian berpikiran bahwa cyberbullying merupakan lelucon, hal yang tidak begitu penting, atau mungkin berpikir dalam sehari-dua hari atau seminggu-dua minggu mereka akan lupa dengan hal tersebut.

Tapi guys, taukah kalian bahwa ternyata ada dampak jangka panjang yang ditimbulkan setelah seseorang terkena cyberbullying? Dampak cyberbullying mungkin tidak terlihat pada saat itu juga, namun dapat berpengaruh dalam jangka panjang di masa depan.

Studi yang dilakukan oleh Tim Dokter Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia membuktikan hal tersebut.

Studi yang melibatkan 2917 responden ini menunjukan bahwa para penyintas dari perundungan (bullying) mengalami perubahan perilaku, lho. Perubahan perilaku terbanyak di antara para responden adalah menjadi perokok. Namun, selain itu ada pula perubahan lainnya, di mana responden menjadi ketergantungan terhadap alkohol dan bahkan melukai dirinya sendiri.

Perubahan perilaku ini terjadi pada laki-laki dan juga perempuan. Laki-laki lebih menunjukan perubahan perilaku dengan merokok dan mengonsumsi alkohol, sedangkan perempuan lebih menutup diri dan cenderung melukai diri sendiri. Ternyata perundungan bukan hal yang sepele kan, guys?

Perundungan (bullying) seringkali terjadi dalam kehidupan sosial, termasuk diantaranya sekolah dan institusi pendidikan. Di sekolah, perundungan biasa dilakukan oleh seseorang yang ingin mendominasi dalam lingkungannya.

Bullying di internet

Perundungan di kalangan remaja ini diperparah seiring dengan perkembangan zaman, di mana aspek kehidupan sosial juga kini dipengaruhi oleh internet dan kehidupan dunia maya. 80% remaja menggunakan internet untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Internet juga digunakan 70% remaja untuk berinteraksi dengan teman-temannya, 65% untuk mendengarkan musik dan 39% untuk mengakses video online. Nyatanya, selain digunakan untuk mengerjakan tugas yang kini serba elektronik, media sosial juga bisa menjadi lahan yang subur untuk perkembangan bullying.

Dari adanya internet, lahirlah istilah cyberbully, yaitu perundungan yang dilakukan melalui dunia siber atau internet.

Cyberbully bisa dilakukan melalui media elektronik apa saja, tidak terbatas pada komputer dan ponsel pintar. Hal ini tentunya membuat bullying semakin mudah dilakukan dari mana saja dan kapan saja. Tindakan cyberbullying pun beragam. Bisa melalui pesan singkat (SMS), melalui sindiran dan tag di akun-akun seperti Instagram, Twitter, atau Facebook, atau bisa juga melalui pesan langsung seperti melalui WhatsApp, LINE, dan aplikasi instant messaging lainnya.

Dari hasil penelitian yang dilakukan, usia 12 hingga 14 lebih rentan untuk menjadi korban perundungan. Sedangkan, usia 15 tahun ke atas lebih berpotensi menjadi pelaku perundungan, baik laki-laki maupun perempuan. Baik pelaku maupun korban bullying, keduanya sama-sama memiliki karakter yang pesimistis dan rentan stres. Hal ini menyebabkan munculnya perilaku merokok, mabuk, melukai diri sendiri, atau tindakan negatif lainnya sebagai bentuk pengalihan atas perasaan tersebut.

Seringkali, trauma dapat kembali menghantui penyintas bertahun-tahun setelah melewati usia remaja. Sehingga, penyintas bullying dapat saja mengalami dampak negatif yang berkepanjangan, termasuk ketergantungan dengan merokok, mabuk, atau melukai diri sendiri.

Jadi, udah tau kan kalau ternyata bullying nggak sesederhana itu, guys? Mungkin tidak semua orang yang menjadi korbannya bicara, tapi belum tentu mereka nggak merasakan dampaknya. Kita bisa melakukan hal-hal lain yang lebih positif dari pada melakukan bullying.

Have a nice day everyone. Dont forget to love yourself and people around you 🙂

Referensi

Wiguna T, Irawati Ismail R, Sekartini R, Setyawati Winarsih Rahardjo N, Kaligis F, Prabowo AL, Hendarmo R, The gender discrepancy in high-risk behaviour outcomes in adolescents who have experienced cyberbullying in Indonesia, Asian Journal of Psychiatry (2018), https://doi.org/10.1016/j.ajp.2018.08.021