Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on pocket

Namaku Ema, saat ini umurku 17 tahun, tentu saja aku masih menjadi pelajar di sebuah SMA Negeri yang tidak jauh dari rumah sederhana yang ditempati ayah, ibu, aku dan adik perempuanku yang masih duduk di sekolah dasar. Kehidupan sekolahku terbilang bagus: aku mempunyai beberapa teman baik, aku punya pacar, dan nilai akademisku cukup memuaskan. Atau mungkin, menurutmu, kehidupanku terlihat sempurna? Tapi tunggu dulu, mari ikut aku pulang sekolah.

Sesampainya di rumah, biasanya hanya ada adikku yang sedang tidur, karena ibuku masih bekerja sebagai guru dan ayahku masih di toko. Setelah sekolah biasanya aku menyempatkan tidur sebentar lalu mengerjakan tugas. Rumah masih terasa sepi saat sore, adikku biasanya pergi main dengan teman-temannya dan ibuku masih istirahat di kamarnya. Aku mulai menyapu dan mencuci piring. Ayah pulang menjelang magrib. Biasanya saat malam kita berempat makan malam bersama, setelah itu aku masuk kamar untuk meneruskan mengerjakan tugas atau hanya bersantai mengobrol dengan pacarku lewat online chat. Lalu, seperti biasanya, terdengar keributan di ruang tengah: orang tuaku saling berteriak, memaki dan menyalahkan satu sama lain, terdengar juga adikku menangis. Semua yang sudah aku dengar dan alami sedari kecil.

Rasanya tiada hari tanpa orang tuaku bertengkar dan saling berteriak, membuatku sangat lelah mendengar mereka. Mereka biasanya sibuk bertengkar hingga tidak tahu apakah aku membutuhkan sesuatu atau tidak, apakah aku besok ada ujian atau tugas penting sehingga menginginkan malam itu lewat tanpa gangguan. Aku tumbuh dengan perasaan malu. Malu, mempunyai orang tua yang saling berteriak dan keluarga yang sebenarnya tidak bisa dibilang baik-baik saja, sehingga aku tidak pernah bercerita mengenai keluargaku pada siapapun, termasuk pacarku. Padahal, jika diingat-ingat, kami sudah menjalin hubungan lebih dari satu tahun. Mungkin karena pacarku dibesarkan dalam keluarga yang harmonis, yang membuatku iri padanya. Kadang terpikir apakah jika aku mengakhiri hidup, orang tuaku akan berhenti bertengkar? Rasanya hidupku tidak berguna, mendamaikan orang tua saja tidak bisa.

Hari itu aku pulang sekolah seperti biasanya, namun rasanya ada rasa kosong yang memenuhi hatiku. Aku hanya berbaring di kamar, menangis pun rasanya sudah tidak sanggup. Aku bertengkar dengan pacarku karena merasa dia tidak ada waktu untukku, dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain game. Tadi pagi juga aku bangun sangat pagi karena orang tuaku bertengkar lagi, entah apa yang mereka teriakkan saat itu, aku sudah tidak berdaya mencernanya. Aku lelah, sangat lelah. Aku rasa ini saatnya aku pergi. Aku mulai mencari di internet cara-cara tercepat yang mungkin tidak menyakitkan, aku mulai menyusun semua rencana kepergianku. Aku menuliskan daftar hal-hal menyakitkan yang terjadi pada hidupku selama ini. Namun, di tengah semua itu, aku tak bisa menyangkal bahwa aku juga takut.

Aku takut akan apa yang terjadi setelah kematian dan di tengah ketakutan itu, tiba-tiba aku mendengar suara tawa ibu dan adikku dari kamar di sebelah kamarku. Perasaan lelah, kosong dan putus asa yang tadi mendominasi, sejenak terganti dengan perasaan berat yang tak bisa kubendung. Aku merasa berat meninggalkan dunia ini, ketika memikirkan adikku. Siapa nanti yang akan menjaganya? Adikku masih kecil dan aku tidak ingin meninggalkan bekas luka yang lebih besar padanya karena kehilangan aku. Cukup orang tuaku saja. Aku tidak tega menghapus senyumnya.*

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on pocket
Chris Ayu Negara

Chris Ayu Negara

Saya Chris, saya adalah Mahasiswa Psikologi dari Universitas Malang. Saya ingin masyarakat kita lebih peduli soal isu bunuh diri, sehingga saya memutuskan untuk bergabung dengan Into The Light Indonesia sebagai penulis konten. Saya suka membaca novel dan berwisata.