Pemuda Kekinian dan Media Sosial: Tantangan dan Peluang untuk Kesehatan Jiwa

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pocket

Tanggal 28 Oktober dimaknai masyarakat Indonesia sebagai hari yang bersejarah di mana pemuda Indonesia menetapkan ikrar untuk bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu – Indonesia. Bulan yang sama juga diperingati secara global sebagai Bulan Kesehatan Jiwa Sedunia, yang peringatannya jatuh tanggal 10 Oktober dan pada tahun ini mengambil tema Kesehatan Jiwa Orang Muda di Dunia yang Berubah. Tema Hari Kesehatan Jiwa Sedunia tahun ini sangat relevan mengingat bahwa WHO memproyeksikan bahwa di tahun 2020 depresi akan menjadi salah satu penyebab kematian terbesar secara global sehingga investasi kesehatan jiwa bagi orang muda mutlak diperlukan. Laporan yang dirilis oleh badan kesehatan sedunia itu pun mengemukakan bahwa mayoritas gangguan jiwa berkembang mulai usia 14 tahun serta bunuh diri menjadi penyebab kematian tertinggi kedua pada kelompok usia 15-29 tahun. Penelusuran Into The Light Indonesia sendiri menemukan bahwa mahasiswa dan siswa sekolah menempati urutan kedua dan ketiga dari pekerjaan individu yang paling sering diberitakan mengalami percobaan bunuh diri.

Masa remaja dan dewasa muda menjadi periode rentan masalah kesehatan jiwa selain karena tugas perkembangan dan pencarian jati diri, juga dari cepatnya perubahan yang terjadi di dunia saat ini. Meskipun demikian, keterlibatan aktif pemuda zaman now pun patut diapresiasi untuk menyampaikan suara yang selama ini tertahan oleh stigma terkait kesehatan jiwa. Salah satu aspek yang memegang peranan penting dalam meleknya pemuda dan partisipasi mereka dalam isu kesehatan jiwa adalah penggunaan internet. Sebagai pedang bermata dua, Internet dapat memberikan dampak negatif sekaligus manfaat. Artikel ini akan menjelaskan dua sisi mata pedang dari internet dalam konteksnya membentuk pemuda masa kini.

Dunia yang Berubah

Tantangan pemuda di zaman sekarang tentu berbeda dengan era Kongres Sumpah Pemuda. Sesuai dengan tema Hari Kesehatan Jiwa Sedunia tahun ini, dunia yang (konstan) berubah adalah pembeda paling signifikan bagi generasi zaman sekarang. Perubahan konstan ini dipersembahkan utamanya oleh akses internet. Maraknya penggunaan media sosial dan akses terhadap berbagai portal informasi dapat membuat sebuah pengetahuan menjadi tidak relevan untuk digunakan di zaman sekarang. Salah satu isu yang sedang marak dengan tingginya konsumsi di era digital ini adalah masalah informasi palsu (hoax). Ketidakmampuan menangani serta memilih informasi yang relevan dan valid dapat menyebabkan kegagalan dalam beradaptasi terhadap disrupsi era digital. Sehingga demikian, pemuda sangat perlu membekali diri dengan dua keahlian: literasi informasi dan berpikir kritis.

Pengucilan di dunia internet lebih memberikan dampak psikologis bagi korbannya karena interaksi di dunia maya memiliki bukti fisik, terutama pada remaja yang salah satu ciri perkembangannya adalah menginginkan perhatian terhadap dirinya.

Perubahan tidak selamanya bersentimen positif. Perubahan juga dapat terjadi pada tindakan-tindakan yang awalnya hanya ada di kehidupan sehari-hari namun bisa tereskalasi dengan bantuan internet, misalnya pengucilan siber dan perundungan siber (cyberostracism & cyberbullying). Pengucilan di dunia internet lebih memberikan dampak psikologis bagi korbannya karena interaksi di dunia maya memiliki bukti fisik, terutama pada remaja yang salah satu ciri perkembangannya adalah menginginkan perhatian terhadap dirinya. Korban akan lebih merasa dikucilkan ketika tidak digubris perkataannya via teks atau medium percakapan daring dibandingkan ketika obrolan dilakukan secara tatap muka.

Perundungan juga yang awalnya hanya dilakukan individu yang diketahui identitasnya dengan cara kontak fisik atau saling mencela bisa makin parah dengan medium internet karena pelaku perundungan siber dapat memberikan informasi palsu yang merugikan korban dan identitas pelaku dapat disamarkan. Justin Patchin dan Sameer Hinduja dalam bukunya yang berjudul Cyberbullying Prevention and Response: Expert Perspective mengemukakan bahwa satu dari lima remaja di seluruh dunia pernah menjadi korban perundungan siber dan kasus perundungan siber juga memiliki dampak psikologis bagi pelakunya. Perundungan fisik maupun psikologis yang pada awalnya dapat muncul secara kasat mata namun dengan bantuan internet, sebuah kejadian perundungan memiliki efek yang jauh lebih parah. Mengatasi dan mencegah perundungan siber ini juga menjadi tantangan baru bagi siswa, keluarga, dan sekolah karena selain anonimitas pelaku, kejadian perundungan siber juga dapat terjadi di berbagai akun media sosial yang korban miliki bahkan dapat berlanjut ke perundungan fisik maupun psikologis di kehidupan sehari-hari.

1 dari 5 remaja di seluruh dunia pernah menjadi korban perundungan siber dan kasus perundungan siber juga memiliki dampak psikologis bagi pelakunya.
Sumber: Cyberbullying Prevention and Response: Expert Perspective

Keterlibatan Pemuda

Berbeda dengan ketika zaman penjajahan dimana pemuda memperjuangkan kemerdekaan dengan melawan penjajah, pemuda kekinian memperjuangkan sesuatu yang sifatnya lebih abstrak dengan melawan (atau setidaknya mempertanyakan) dogma-dogma yang diturunkan dari generasi sebelumnya. Salah satunya adalah membicarakan soal kesehatan jiwa. Membicarakan soal kesehatan jiwa tidak perlu melulu harus membahas titik ekstremnya, seperti soal gangguan jiwa maupun krisis ketika kejadian bunuh diri. Membicarakan soal kesehatan jiwa pada generasi muda setidaknya dapat dimulai dengan masalah-masalah ringan yang terjadi di sekitar mereka, mempersiapkan program konseling sebaya sembari menanamkan nilai bahwa menceritakan masalah dengan orang lain dapat meringankan beban psikologis, dan memberitahukan siapa saja profesional yang dapat dijangkau jika masalah yang dihadapi tidak dapat lagi ditangani konselor sebaya atau guru bimbingan dan konseling. Membicarakan masalah kesehatan jiwa pada orang muda juga tidak lepas dari bagaimana sistem yang berperan di sekitar mereka. Peran keluarga dan sekolah sebagai zona aman bagi tumbuh kembang orang muda menjadi krusial.

Tidak hanya sekadar membicarakan, keterlibatan aktif pemuda dalam usaha meningkatkan kesehatan jiwa patut diapresiasi. Di tengah program-program yang sifatnya top-down dari pemerintah, orang muda dengan aktivitasnya di media sosial maupun kehidupan sehari-hari mencoba berkontribusi dalam rangka mendukung maupun memberikan alternatif mempromosikan isu kesehatan jiwa di level akar rumput. Hal ini menunjukkan keterbukaan sekaligus pendobrakan terhadap tabu dan stigma yang seringkali masih menjadi selubung penahan untuk membicarakan masalah kesehatan jiwa. Mengembalikan lagi dengan penggunaan media digital, salah satu cara komunitas-komunitas ini menjangkau masyarakat adalah melalui medium berbasis internet. Into The Light Indonesia sendiri memiliki beragam media sosial yang bertujuan untuk memberikan informasi publik mengenai isu pencegahan bunuh diri. Pendekatan yang berbeda dilakukan misalnya oleh Ibunda.id atau Riliv yang memanfaatkan internet sebagai media interaktif untuk menerima curhat terkait masalah personal.

Media sosial dapat digunakan menjadi alat untuk mengomunikasikan informasi mengenai kesehatan jiwa pada anak muda. Pengetahuan yang dahulu kala hanya dibagikan pada kelas-kelas atau sesi penyuluhan sekarang ini dapat ditata menjadi feed atau infografik yang mengisi linimasa para pengguna media sosial. Salah satu temuan dari Ellen Wartella dan tim dari Center on Media and Human Development, Northwestern University menyebutkan bahwa sekitar satu dari lima orang muda di Amerika Serikat menggunakan internet sebagai media untuk mencari informasi terkait stress, kecemasan, depresi, dan isu kesehatan jiwa lainnya. Menimbang bahwa Indonesia adalah salah satu pengguna Internet terbesar di Asia, dapat diestimasi bahwa perbandingan dengan temuan tersebut bernilai sama atau bahkan lebih kecil lagi. Hal tersebut sedikit banyak berpengaruh pada meleknya generasi kekinian mengenai isu kesehatan jiwa. Tantangan dari temuan ini adalah bagaimana pemuda dapat menyeleksi informasi mengenai kesehatan jiwa yang memiliki basis bukti ilmiah dan bagaimana Internet tidak hanya dijadikan satu-satunya sumber, apalagi dijadikan landasan untuk mendiagnosis diri sendiri.

Sebagai penutup, pemuda kekinian yang hidup dengan internet, terutama media sosial, dapat menggunakannya sebagai alat untuk mempromosikan isu kesehatan jiwa atau sebagai senjata yang dapat merusak kesehatan jiwa itu sendiri. Dengan kesadaran bahwa pemuda – yang merupakan sebagian besar dari warganet – sebagai tonggak pembawa perubahan bagi masyarakat, diharapkan mereka menggunakan sisi mata pedang yang membawa manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. Semoga kesehatan jiwa menjadi milik semua orang, terutama di kalangan pemuda Indonesia.