Teruntuk Teman Hidupku

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on pocket

Sore ini kulihat dirimu sedang mengaduk secangkir kopi dengan gula dan terlihat tenang seperti biasanya. Aku bertanya-tanya, apakah ekspresi dan pikiranmu berimbang? Ataukah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, tapi tak ingin kau sampaikan padaku? Memikirkan hal itu saja lantas membuat kepanikan di dalam kubikel-kubikel otakku. Untungnya menyeruput kopi hangat barusan telah mengembalikan ketenangan dalam pikiranku.

Pasti begitu sulit untukmu melihat keadaanku yang tidak selalu baik-baik saja ya? Ada hari di mana aku tidak menginginkanmu, meraung, menangis, karena kesedihan yang tak berperi. Hari di mana aku tak mau turun dari tempat tidur, tidak mau mengisi perutku dengan sup kentang terlezat yang kau buat dan menyulitkanmu dengan tumpukan pakaian yang belum dicuci.

Saat itu kau bilang “Aku selalu ada untukmu, kau tidak sendirian.” Dan aku tak pernah sadar sebaris kalimat itu lah yang kuinginkan melebihi keinginanku untuk bekerja ataupun mandi.

Isi kepalaku tidak selalu berisi hal-hal yang bahagia walaupun kehadiranmu adalah kebahagiaan yang tiada tandingannya. Aku tak bermaksud menyakiti apalagi membuat siapapun bersedih hati, termasuk dirimu. Namun apa daya sayang, terkadang kenyataan tak sesuai dengan harapan. Satu yang perlu kau tahu, aku begitu mencintaimu dalam keadaan apapun.

Aku takut membuatmu khawatir, bahkan hingga sekarang walau sudah ratusan kali kau bilang “Hey, tidak apa-apa!” dan kau bersungguh-sungguh sangat mengatakannya. Aku begitu kagum dengan kesabaran serta kegigihanmu untuk membantuku merasa lebih baik.

Terima kasih teman hidupku, untuk ribuan jam yang kau habiskan bersamaku dalam keadaan terbaik dan terpayah.

Terima kasih teman hidupku, untuk duduk bersamaku dalam kegelapan tanpa cercah.

Terima kasih teman hidupku, untuk kebahagiaan yang selalu kau berikan walau sering kali penolakanlah yang kau dapat.

Terima kasih teman hidupku, karena tidak pernah berkata “Ah, kau hanya berlebihan!”, “Kau kurang beribadah!”, atau “Nanti juga kau akan baik-baik saja.” Sebaliknya kau memelukku dan mendengarkan setiap cerita sedih yang bahkan menurutku tidak masuk akal.

Terima kasih teman hidupku, karena pagi itu kau memapahku untuk mengobati keterpurukanku, dan segalanya mulai membaik sejak itu.

Terima kasih teman hidupku, karena tak pernah sekalipun kau remehkan keadaanku.

Terima kasih… Semoga secangkir kopi hangat pada sore hari ini menjadi salah satu dari ribuan hal yang membuat kita bersyukur akan kebahagiaan.

Dari teman hidupmu yang mengidap gangguan kecemasan.

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on pocket
Allysa Rismaya Dwi Putrie

Allysa Rismaya Dwi Putrie

Setelah lulus dari jurusan Sastra Belanda di Universitas Indonesia, Allysa Rismaya mendedikasikan dirinya sebagai penulis lepas. Ketertarikannya kepada isu kesetaraan gender, feminisme, hak asasi manusia, lingkungan hidup dan kesehatan jiwa membuat Allysa bersuara dan berjuang dalam tulisan di manapun ia bisa menulis. Selain membuat matanya semakin rabun di depan laptop, sesekali Allysa gemar mempertontonkan resep makanan dan "ngomel" di Instagram @nagabetarung.