Mitos dan Fakta Seputar Bunuh Diri

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on twitter
Share on facebook
Share on email
Share on pocket

Masih banyak stigma seputar kesehatan mental dan bunuh diri yang beredar di masyarakat. Tidak heran jika banyak informasi dan pemahaman mengenai bunuh diri di tengah masyarakat yang tidak benar atau sesat, menjadi mitos yang berulang-ulang. Hal ini mungkin disebabkan karena pendidikan mengenai kesehatan jiwa (dan pentingnya bagi kita untuk menjaga kesehatan mental kita sendiri) tidak pernah diajarkan secara formal atau informal, sehingga masih banyak orang yang salah paham dengan isu ini.

Padahal, informasi yang salah dan stigma justru dapat memperburuk kondisi kesehatan mental publik. Orang yang benar-benar membutuhkan bantuan terkait dengan kondisi kesehatan mental mereka cenderung takut untuk mencari pertolongan karena tidak ingin dihakimi atau distigma. Informasi dan pemahaman mengenai bunuh diri yang tidak tepat juga menyebabkan orang dapat mengambil tindakan yang salah dan dapat berakibat serius, sekalipun orang tersebut mungkin memiliki itikad yang baik.

Oleh karena itu, kami merangkum sekumpulan mitos dan fakta yang sering disinggung oleh masyarakat mengenai isu bunuh diri. Mari membedah dan menjawab beragam mitos mengenai bunuh diri yang paling sering ditemukan di tengah masyarakat, satu per satu.

Orang yang hendak bunuh diri tidak akan membicarakan mengenai keinginannya.

Fakta: Hampir semua orang yang hendak bunuh diri menunjukkan tanda-tanda peringatan bunuh diri, misalnya melalui perkataan tertentu, kegiatan yang menunjukkan keinginan bunuh diri, atau perubahan perilaku/tampilan yang kasat mata. Beberapa orang juga dapat menunjukkan tanda-tanda yang sifatnya tidak langsung dapat dikenali, seperti menarik diri dari kegiatan atau pergaulan.

Beberapa orang mungkin seolah-olah tidak menunjukkan tanda-tanda peringatan apapun. Dengan mempelajari tanda-tanda peringatan bunuh diri dan bagaimana cara menganganinya, kita dapat melatih diri kita untuk lebih peka terhadap tanda-tanda yang tersirat.

Orang dengan kecenderungan bunuh diri sungguh-sungguh ingin mati.

Fakta: Teori yang dikemukakan Baumeister justru berpendapat bahwa bunuh diri adalah cara seseorang yang hendak lari dari rasa sakit yang berlebihan, sehingga kematian dilihat sebagai satu-satunya solusi.[3]

Ini artinya, orang yang ingin bunuh diri sesungguhnya masih punya keinginan untuk hidup, apabila ia dapat menemukan cara untuk mengurangi atau menghentikan rasa sakit yang dialaminya. Dukungan emosional (seperti dengan mendengarkan keluh kesahnya dengan empati) sangat penting diberikan bagi mereka yang membutuhkannya.

Cerita dari para penyintas bunuh diri juga menunjukkan, kebanyakan dari mereka justru bersyukur bahwa mereka bisa memiliki kesempatan untuk hidup lagi dan menemukan orang atau hal yang membuat mereka menemukan alasan untuk hidup.

Orang yang berusaha untuk mengakhiri hidupnya hanya ingin mencari perhatian.

Fakta: “Mencari perhatian” hanya berasal dari persepsi yang salah.

Saat seseorang mengalami rasa sakit yang terlampau besar, ia akan kehilangan kemampuan untuk mengatur emosi negatif. Ini menyebabkan cara seseorang menunjukkan perilaku bunuh diri dapat muncul dalam beragam bentuk apapun, di manapun, dengan cara apapun, sehingga cara yang terlihat diumbar ke publik pun dapat dianggap sebagai aksi cari perhatian oleh orang yang tidak paham.

Banyak dari mereka yang berbicara atau berusaha untuk mengakhiri hidup justru telah mengalami kecemasan, depresi, dan rasa putus asa yang berkepanjangan, dan merasa tidak memiliki solusi apa pun. Mereka justru membutuhkan pertolongan sesegera mungkin.

Pemikiran bunuh diri disebabkan karena kerasukan jin atau makhluk gaib.

Fakta: Perilaku bunuh diri tidak disebabkan karena hal-hal berbau mistis atau gaib. Tidak hanya itu, membawa orang yang mengalami gangguan jiwa ke dukun, paranormal, atau “orang pintar” tidak akan menyembuhkan seseorang dari gangguan kejiwaan.

Pemikiran bunuh diri muncul disebabkan karena beragam faktor biologis, psikologis, dan sosial yang saling berkaitan satu sama lain dan mempengaruhi pertimbangan seseorang untuk memikirkan atau mencoba bunuh diri.

Seseorang bunuh diri pasti disebabkan oleh suatu peristiwa tertentu (seperti putus cinta atau faktor ekonomi).

Fakta: Banyak ahli berpendapat, bahwa penyebab seseorang mencoba atau melakukan bunuh diri tidaklah sesederhana itu. Bunuh diri disebabkan karena seseorang terpapar dengan beragam faktor risiko (biologis, psikologis, dan sosial) yang saling berkaitan satu sama lain.

Ambil contoh seseorang yang mengalami putus cinta, masalah ekonomi, atau “peristiwa” tertentu yang negatif. Reaksi setiap orang untuk menanggapi “peristiwa” tersebut pastinya berbeda. Ada yang tidak menimbulkan trauma khusus, tetapi bagi orang lain dapat menimbulkan perubahan drastis. Hal ini disebabkan karena begitu banyak pengalaman dan faktor lain yang saling mempengaruhi satu sama lain. Namun, jika seseorang merasa sudah mengalami terlalu banyak “peristiwa” negatif, maka hal tersebut dapat menjadi pemicu (trigger) ia benar-benar memutuskan untuk mencoba bunuh diri.

Oleh karena itu, kita juga perlu berhati-hati untuk tidak terlalu cepat menyimpulkan, menduga-duga, atau berasumsi mengenai penyebab bunuh diri seseorang. Banyak faktor risiko atau “peristiwa” yang dialami seseorang namun tidak dapat kita ketahui, terlebih apabila orang itu tidak mengungkapkan apa saja yang menjadi beban atau masalah yang ia hadapi.

Membicarakan atau menanyakan keinginan bunuh diri kepada orang lain akan menyebabkan orang tersebut ingin bunuh diri.

Fakta: Menanyakan keinginan bunuh diri kepada seseorang tidak akan memicu orang tersebut untuk mencoba bunuh diri. Justru, menanyakan hal tersebut dapat memberikan ruang bagi orang itu untuk menceritakan masalahnya, menindaklanjuti masalah yang dia alami kepada psikolog/psikiater jika dirasa perlu, menjauhkan akses dari bahaya, serta membantu orang lain untuk menyelamatkan nyawanya.

Jika kamu curiga dengan kesehatan mental seseorang, jangan ragu untuk menanyakan apakah ia memiliki keinginan bunuh diri, dan jika ia menjawab “ya”, tanyakan juga seberapa jauh rencana atau cara yang akan ia gunakan untuk bunuh diri. Berikan ruang agar ia dapat bercerita, tanpa takut merasa dihakimi atau dicela.

Orang beriman atau beragama tidak mungkin akan bunuh diri.

Fakta: Agama merupakan salah satu faktor pencegah bunuh diri. Kepercayaan seseorang dengan Tuhan dapat menjadi salah satu motivasi seseorang untuk bertahan hidup dan tetap memiliki harapan. Berdoa dan aktif dalam kegiatan rohani juga dapat membantu menjaga kesehatan mental seseorang, begitupun komunitas keagamaan dapat membantu memberikan dukungan kepada orang tersebut di luar kegiatan ibadah.

Namun, faktor pencegah tersebut mungkin tidak lagi dapat membantu ketika tingkat krisis atau tekanan yang dihadapinya sudah terlalu tinggi, sehingga orang tersebut akan menolak makna-makna kehidupan yang diajarkan oleh agama atau sumber lainnya (cognitive deconstruction).[3]

Mitos ini juga dipatahkan dengan adanya bunuh diri yang dilakukan pemuka agama atau orang yang selama ini dikenal erat dengan kelompok atau kegiatan keagamaan.

Oleh karena itu, sangat disarankan bagi orang yang memiliki pemikiran bunuh diri untuk diberi dukungan tanpa menyebut mereka “kurang ibadah” atau “kurang beriman”, atau mempertanyakan spiritualitas orang tersebut.

Orang yang bunuh diri pasti memiliki gangguan jiwa sebelumnya.

Fakta: Studi dari CDC menunjukkan lebih dari 50% orang yang melakukan bunuh diri tidak pernah mengalami riwayat gangguan kejiwaan yang diketahui sebelumnya.[4]

Selain itu, WHO juga menyatakan bahwa meskipun depresi merupakan salah satu faktor risiko bunuh diri yang signifikan, tetapi gangguan jiwa tidak selalu hadir dalam setiap kasus bunuh diri, dan tidak semua orang dengan gangguan jiwa selalu berpikiran untuk bunuh diri.[1]

Jika seseorang orang terlihat senang-senang saja, mereka tidak berisiko untuk bunuh diri.

Fakta: Risiko bunuh diri dapat terjadi pada siapa saja, bahkan kepada orang-orang yang selama ini dianggap selalu bahagia, sukses, atau pintar.

Laki-laki biasanya tidak emosional, sehingga lebih jarang melakukan bunuh diri.

Fakta: Jumlah laki-laki yang meninggal karena bunuh diri di seluruh dunia justru dua kali lebih banyak dibandingkan perempuan.[1] Sementara di Indonesia, jumlah laki-laki yang meninggal karena bunuh diri diperkirakan tiga kali lebih banyak dibandingkan perempuan.[2]

Pandangan bahwa laki-laki harus kuat, tahan banting, tidak boleh lemah, tidak boleh menangis, dan sebagainya, seringkali menyebabkan laki-laki lebih sulit untuk memperoleh bantuan atau takut untuk mencari bantuan (terutama apabila ia mengalami masalah serius). Hal ini menyebabkan laki-laki cenderung mencari cara yang lebih agresif untuk bunuh diri, terlebih jika di dalam masyarakat laki-laki memiliki lebih banyak akses ke benda atau tempat tertentu yang mematikan.

Bunuh diri tidak dapat menular.

Fakta: Mendengar, mengetahui, menyaksikan, atau mengalami rasa berduka karena adanya orang yang meninggal karena bunuh diri dapat mempengaruhi kondisi psikologis seseorang, bahkan kepada mereka yang selama ini sehat mentalnya. Hal ini sangat wajar, manusia adalah makhluk yang mampu merasakan duka cita.

Orang-orang yang dapat terdampak diantaranya keluarga, teman/sahabat, rekan kerja, teman sebaya di sekolah/kampus, orang yang pernah mengenal langsung, orang yang merespon tanggap darurat, tenaga medis, polisi, wartawan, saksi mata, dan orang yang sering terpapar dengan berita bunuh diri.

Mereka yang terdampak dapat merasakan kesedihan yang mendalam, rasa bersalah, marah, distigma, dilupakan, bahkan dapat dituduh sebagai penyebab bunuh diri. Hal ini membuat mereka juga sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya.

Sumber:

[1] World Health Organization (2014). Preventing Suicide A Global Imperative. Luxembourg: WHO Library Cataloguing-in-Publication Data.

[2] Naghavi, M. (2016). Global, regional, and national burden of suicide mortality 1990 to 2016: systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2016. BMJ 2019;364:l94. DOI: 10.1136/bmj.l94

[3] Baumeister, Roy F. (1990). Suicide as Escape from Self. Psychological Review 1990; 97 (1):90-113.

[4] Centers for Disease Control and Prevention. Suicide rising across the US: More than a mental health concern. Disadur dari https://www.cdc.gov/vitalsigns/suicide/

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on twitter
Share on facebook
Share on email
Share on pocket