Surat dari Kami 2013: Hapus Stigma, Peduli Sesama, Sayangi Jiwa

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on pocket
Photo credit: Helsa Novita
Photo credit: Helsa Novita

Bunuh diri telah banyak terjadi di Indonesia walau tidak ada angka pasti yang menyebutkannya. Ironisnya, berita bunuh diri masih sering menjadi bahan eksploitasi media yang tak bertanggung jawab. Tak jarang pula, bunuh diri menjadi bahan lelucon oleh segelintir masyarakat. Korban bunuh diri seringkali menjadi bahan cemoohan tanpa orang-orang mau mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Saya tidak pernah mencoba bunuh diri, saya tidak pernah memiliki nyali untuk melakukannya bahkan ketika gagasan itu ada. Anda bisa bilang bahwa saya memang tidak mengerti bagaimana rasanya menjadi korban bunuh diri. Justru karena ketidakmengertian saya akan posisi mereka, saya tidak berani untuk mencemooh mereka. Saya tidak pernah tau luka apa yang mereka rasakan dan hidup sesulit apa yang telah mereka jalankan hingga memutuskan untuk bunuh diri.

Mungkin apa yang anda dengar mengenai beberapa alasan korban bunuh diri terdengar sangat konyol. Tapi percayalah, mencemooh korban bunuh diri tidak akan membantu mengurangi angka kejadian bunuh diri. Cemoohan ini, hinaan ini, membentuk stigma yang mendarah daging dalam masyarakat kita. “Kamu lemah!”, “Kamu berdosa!”, “Kamu tak beriman!”, “Kamu bodoh!”, “Kamu pecundang!”, “Untuk apa bunuh diri? Hidup lo bisa lebih bahagia koq!”,”Lo bego y? Pikirin keluarga lo coba kalo lo bunuh diri!”. Semua kata-kata dan kalimat ini adalah stigma dan tekanan yang menahan orang untuk membicarakan keinginan untuk bunuh diri. Padahal dengan membicarakan keinginan tersebut, seseorang bisa lebih leluasa menceritakan apa masalah di baliknya. Jika saja kita mau lebih banyak mendengarkan dan memperhatikan alih-alih menghakimi, kita mungkin dapat menyelamatkan nyawa seseorang.

Stigma pada korban bunuh diri juga berpengaruh pada tingkatnya kesadaran masyarakat pada upaya pencegahan bunuh diri. Yah, bunuh diri sangat dapat dicegah apabila kita berhasil mengintervensi dari tataran makro hingga ke mikro. Dan untuk bisa melakukan intervensi ke semua tataran, tentunya masyarakat perlu terkapasitasi terlebih dahulu. Terkapasitasi bukan hanya dengan pengetahuan, tapi juga kepedulian kepada sesama. Pertama-tama, dengan hapus stigma. Stigma telah lama membungkam teriakan, stigma telah lama menekan jiwa, stigma telah lama berakar.

Dengan ini mari kita hapus stigma! Kepada kelompok, kepercayaan, orientasi seksual, etnis dan status apapun. Stigma adalah kegelapan yg telah lama menghantui kita semua. Telah banyak nyawa dan jiwa tersiksa dan terenggut karenanya.

Semua manusia unik, setara, berharga, dan spesial apapun latar belakangnya. Setiap manusia adalah cahaya insani yang terpancarkan di dunia fana ini. Kita semua adalah cahaya, bawakanlah secercah pengharapan agar setiap cahaya terus menyala. Biarkanlah cahaya kita menguatkan cahaya mereka yang meredup di dalam kegelapan. Bagi Anda, saya, dan mereka yang nyaris kehilangan harapan memiliki cahayanya masing-masing. Semoga semua cahaya ini akan menjadi cahaya yang hapuskan kegelapan stigma.

HAPUS STIGMA, PEDULI SESAMA DAN SAYANGI JIWA!

Benny Prawira

founder @IntoTheLightID
Member Indonesia dari Youth Advisory Board @AASuicidology #WSPD2013
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on pocket
Benny Prawira Siauw

Benny Prawira Siauw

Benny adalah seorang suicidolog dan penggiat kesehatan jiwa remaja dan populasi khusus lainnya. Sebagai Youth Mental Health and Suicide Prevention Advocate, Benny adalah Penggagas sekaligus Kepala Koordinator Into The Light Indonesia sejak 2013. Ia saat ini sedang menempuh pendidikan Magister Psikologi Sosial Kesehatan di Unika Atma Jaya (bukan seorang psikolog klinis untuk diagnosis dan terapi). Ia bercita-cita menjadi peneliti lapangan terkait aspek perilaku, struktur sosial dan budaya dalam kesehatan jiwa, terutama dalam pembahasan stigma dan faktor risiko bunuh diri. Baginya, kesehatan jiwa tidak dapat dipisahkan dari kesehatan fisik sebagaimana faktor personal individu tidak dapat dipisahkan dari faktor sosial makro. Di sela waktu senggangnya, ia suka berolahraga, tidur dan mengasah rasa dalam rangkaian kata.