Seminar “Peranan Generasi Muda dalam Membangun Indonesia yang Bebas dari Narkoba”

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on pocket

Pada 30 Mei 2015, Into The Light Indonesia ikut berpartisipasi untuk membawakan sesi mengenai peranan remaja dalam pencegahan bunuh diri dan napza dalam seminar “Peranan Generasi Muda dalam Membangun Indonesia yang Bebas dari Narkoba”. Seminar yang diinisiasi oleh Persekutuan Doa Usahawan Katolik Indonesia (PERDUKI) dengan Jaringan Rehabilitasi Psikososial Indonesia (JRPI), dan diadakan di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya ini memiliki tujuan khusus, yaitu:

  1. Meningkatkan pengetahuan mengenai narkoba, dampak yang ditimbulkan, dan upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah narkoba
  2. Membangun kesadaran dan pengetahuan mengenai bentuk kontribusi yang dapat dilakukan oleh masing-masing individu dalam rangka membangun Indonesia yang bebas dan bersih dari narkoba
  3. Mengajak masyarakat, khususnya mahasiswa, untuk ikut serta berkontribusi mencegah dan menanggulangi narkoba

Tujuan ini penting untuk dicapai, karena berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) dengan Puslitkes UI (2011), angka prevalensi penyalahgunaan narkoba dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dimana pada 2015 diperkirakan jumlah pengguna narkoba mencapai 5,8 juta jiwa (Fariz Fardianto, 2014, dikutip dari Merdeka.com). Dalam lima tahun terakhir, pasien rawat inap di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) jumlahnya terus meningkat (Buletin NAPZA Kementerian Kesehatan, 2014). Keadaan tersebut sangat mengkhawatirkan karena dapat memengaruhi produktivitas dan berdampak negatif terhadap individu dan negara.

Kelompok remaja dinilai rentan mengonsumsi narkoba dan zat terlarang lainnya karena pada masa tersebut individu berada dalam proses pencarian jati diri. Tidak jarang ditemui bahwa penggunaan narkoba diawali oleh adanya pengaruh sosial dan ekonomi. Oleh karena itu, PERDUKI bersama dengan JRPI mengadakan seminar ini sebagai salah satu upaya untuk mengajak generasi muda turut aktif dalam pencegahan penggunaan narkoba.

Seminar dibuka oleh sambutan dari PERDUKI dan JRPI. Para professional seperti dr. Laurentius Panggabean, Sp.KJ., MKK (psikiater), Dr.Doddy Haryadi, MS. (psikolog), dan Nur Syamsu Kusuma, M.Si (pekerja sosial) mencoba menjelaskan masalah terkait NAPZA yang terjadi di Indonesia sesuai dengan keahlian dan pengalamannya masing-masing. Banyaknya jenis NAPZA, peredarannya di antara remaja, serta sedikitnya sistem rehabilitasi yang tersedia menjadi beberapa masalah yang mereka angkat.

Setelah sesi dari para profesional, terdapat juga sesi testimoni dari mantan pengguna sekaligus konselor NAPZA, Octo Berliansyah yang mendedikasikan dirinya untuk memfasilitasi proses rehabilitasi kawan-kawan pengguna narkoba. Ia menceritakan pengalaman pribadinya dari awal keterlibatan dirinya hingga hendak bunuh diri akibat NAPZA, dan saat ia lepas dari NAPZA. Setelah sesi dari pak Octo, Into the Light diwakili oleh Benny Prawira juga menjelaskan mengenai masalah gangguan jiwa pada remaja yaitu salah satunya adalah penggunaan NAPZA terutama pada remaja laki-laki usia 15 – 19 tahun. Masalah penggunaan NAPZA yang berbeda dari setiap diagnosis gangguan jiwa serta masalah stigma pada pengguna NAPZA dan ODGJ juga dijelaskan. Selain itu, juga dijelaskan bagaimana hubungan antara NAPZA, gejala gangguan jiwa dan bunuh diri yang sangat erat dan bisa bersifat timbal balik.

Dalam penutupan seminar hari itu, dibuat pernyataan bersama dari mahasiswa mengenai peran mereka agar dapat mencegah semakin maraknya penggunaan NAPZA. Partisipasi anak muda dalam seminar ini sangat dihargai dan menjadi penting untuk disorot bersama dalam event-event terkait kesehatan jiwa selanjutnya. Diharapkan dengan bekerjasama lintas generasi, kita dapat membangun bangsa yang lebih sehat jiwa.

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on pocket
Kevin Sucianto

Kevin Sucianto

Sebagai "Social Media Auditor", Kevin mulai berkontribusi di Into The Light Indonesia sejak 2013, lalu kabur sebelum kembali lagi pada 2018. Kevin adalah lulusan mahasiswa akuntansi yang saat ini tobat berprofesi di bidang marketing communication, penulis konten, dan pengelola media sosial. Di saat waktu luang, senang bermain Cookie Run: OvenBreak, mengisi teka-teki silang, menjadi barista abal-abal, atau berburu restoran paling enak di Jakarta.