Mengapa menyebarkan konten bunuh diri di media sosial dapat berdampak negatif?

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on twitter
Share on facebook
Share on email
Share on pocket

Keberadaan internet membuat arus informasi dapat bersumber dari siapa saja, termasuk melalui layanan media sosial atau pengirim pesan instan (seperti WhatsApp atau LINE). Informasi apapun bisa mendadak menjadi viral dalam hitungan jam, bahkan menit. Kita mungkin pernah mengalami, secara sengaja maupun tidak sengaja, menonton foto atau video dari orang yang bunuh diri dan terekam di media sosial. Beberapa di antaranya bahkan pernah viral.

Akan tetapi, pahami bahwa menyebarkan konten tersebut kepada teman dan keluarga kamu justru memiliki dampak negatif kepada mereka yang melihat konten tersebut. Dampak tersebut tidak hanya berpotensi merugikan teman dan keluarga kamu, namun juga justru mendorong orang lain yang selama ini sudah memiliki pemikiran bunuh diri.

Trauma sekunder bagi orang biasa yang menyaksikan

Mereka yang menyaksikan konten, dalam kondisi kejiwaan yang sehat maupun tidak, rentan mengalami trauma sekunder karena menyaksikan adegan bunuh diri yang terlalu eksplisit.

Trauma sekunder yang berulang-ulang dapat menyebabkan orang sehat jiwanya mengalami efek samping tertentu. Hal yang mungkin bisa kamu rasakan dalam sekejap adalah rasa ngilu atau ngeri, mual-mual, atau kehilangan nafsu makan. Dalam jangka panjangnya, adegan tersebut dapat meningkatkan stres, depresi, atau bahkan mulai mengalami pemikiran untuk bunuh diri terlebih jika seseorang berada dalam kondisi kesehatan mental yang kurang baik.

Trauma sekunder ini bukan hanya berdampak bagi orang-orang yang menyaksikan konten kamu, namun juga dapat menyerang diri kita sendiri yang menontonnya.

Trauma sekunder seperti ini juga tidak hanya dapat disebabkan karena foto/video adegan bunuh diri saja, namun juga foto atau video lainnya yang eksplisit, seperti adegan kekerasan, peristiwa terorisme, atau orang yang terluka hebat karena kecelakaan atau peristiwa tertentu.

Memicu bunuh diri tiruan

Penyebaran konten juga dapat memicu bunuh diri tiruan (copycat suicide) atau dikenal pula dengan efek Werther. Informasi bunuh diri yang terlalu mendetail seperti ciri-ciri orang, asumsi penyebab, dan metode bunuh diri yang jelas, dapat mendorong orang yang sedang depresi, memiliki masalah pribadi, atau memiliki pemikiran bunuh diri, untuk ikut mencoba bunuh diri.

Hal ini menjelaskan mengapa setelah seseorang meninggal karena bunuh diri dengan cara tertentu, serta informasinya tersebar luas, sering diikuti dengan orang lain yang mencoba melakukan bunuh diri dengan cara yang mirip atau meningkatnya angka bunuh diri di tempat atau rentang waktu tertentu. Tentu kita berharap agar jumlah orang yang bunuh diri tidak bertambah, bukan?

Memperburuk stigma

Media sosial memberikan ruang bukan hanya bagi kita menonton atau mengonsumsi konten tertentu, namun juga ruang bagi kita untuk berkomentar atau berpendapat.

Sayangnya, ruang tersebut juga membuka orang-orang untuk memberikan komentar dan penghakiman yang tidak pantas. Komentar tersebut punya dampak negatif yang begitu besar – penghakiman terhadap orang yang meninggal karena bunuh diri akan membuat konten di media sosial menjadi negatif bagi siapa saja yang ikut berpartisipasi dan siapa saja yang membacanya.

Tidak hanya itu, komentar penuh penghakiman juga memperburuk stigma bunuh diri bagi orang-orang terdekat yang berduka dan orang-orang yang sedang membutuhkan bantuan terkait dengan kondisi kesehatan mental mereka.

Menyakiti perasaan bagi orang-orang yang sedang berduka

Orang-orang yang kenal dekat dengan orang yang bunuh diri bisa saja terganggu kenyamanannya. Komentar yang tidak sopan di media sosial terkait dengan orang yang meninggal tentu akan terasa begitu menyakitkan saat dibaca di mata orang-orang terdekat yang mengasihi mereka.

Padahal, mereka sedang mengalami masa yang berat, ketika orang yang mereka kasihi meninggal karena bunuh diri. Misalnya apabila penghakiman tersebut cenderung mencari-cari kesalahan atau menuduh seseorang sebagai penyebab orang tersebut bunuh diri, dan menimbulkan rasa bersalah yang lebih besar bagi orang-orang yang ditinggalkan. Jika dampaknya begitu dahsyat, hal ini dapat memicu orang-orang yang merasa bersalah untuk ikut mencoba melakukan bunuh diri.

Padahal, orang yang ditinggalkan karena keluarga atau kerabatnya meninggal karena bunuh diri (disebut sebagai “penyintas kehilangan bunuh diri“) sangat membutuhkan dukungan moral.

Marilah berempati dan hormatilah mereka yang sedang berduka karena mereka kehilangan orang yang mereka kasihi.

Pelanggaran privasi

Orang-orang yang ditinggalkan juga bisa mendapatkan stigma tambahan ketika informasi atau kehidupan pribadi dari orang yang meninggal ikut tersebar di media sosial atau media massa. Stigma tersebut dapat berbentuk gosip atau fitnah, penghakiman atau hinaan verbal, mencari atau menuduh sesuatu/seseorang yang menjadi penyebab seseorang bunuh diri, atau asosiasi negatif lainnya.

Dalam beberapa kasus, stigma tersebut dapat berujung panjang dan berdampak luas. Hal yang sering terjadi adalah penolakan dari masyarakat sekitar, misalnya jenazah ditolak untuk disemayamkan atau dimakamkan dengan cara tertentu atau adanya asosiasi suatu tempat menjadi angker atau berhantu. Ini tentunya sangat tidak menghormati perasaan orang-orang yang sedang dalam proses berduka.

Orang yang membutuhkan pertolongan menjadi takut mencari bantuan

Orang dengan kecenderungan bunuh diri dan depresi yang butuh pertolongan dapat membaca komentar negatif dari video bunuh diri. Ironisnya komentar atau penghakiman tersebut mungkin muncul dari orang-orang terdekat.

Mereka akan menjadi enggan mencari bantuan karena takut terkena stigma dan penghakiman dari orang banyak atau orang di sekitar mereka.

Padahal, pemberitaan bunuh diri harusnya menjadi momentum untuk mengundang orang-orang yang memiliki pemikiran bunuh diri atau depresi untuk mencari pertolongan kepada orang terdekat atau menghubungi tenaga profesional kesehatan jiwa. Misalnya, media massa mulai secara aktif mencantumkan informasi pencarian bantuan profesional di setiap bagian bawah artikel terkait bunuh diri.


Apa yang harus kita lakukan jika kita menemukan konten bunuh diri di media sosial?

Ada beberapa tindakan yang bisa kamu ambil.

Segera laporkan konten tersebut untuk dihapus. Konten bunuh diri dan komentar yang negatif terkait dengan bunuh diri melanggar pedoman komunitas di semua media sosial.

Jika kamu menerima gambar/video terkait orang yang bunuh diri, jangan sebarkan. Stop di kamu. Izinkan keluarga yang ditinggalkan untuk berduka, tanpa harus dihantui stigma.

Hentikan penyebaran foto/video yang dapat menimbulkan kehendak bunuh diri pada orang depresif. Jangan sebarkan jika kita menerimanya, dan ingatkan teman-teman kita di media sosial untuk berhati-hati saat menerima foto/video tersebut.

Tahan segala macam komentar dan asumsi mengenai kasus bunuh diri tersebut. Komentar dan asumsi negatif di media sosial yang dibaca oleh orang dengan kecenderungan bunuh diri dan depresi akan membuat mereka enggan mencari bantuan.

Tidak perlu mencari siapa yang salah atau apa yang menyebabkan seseorang bunuh diri. Bunuh diri disebabkan karena beragam faktor yang kompleks dan saling berkaitan satu sama lain.

Mari saatnya kita berempati, dengan memberikan dukungan sosial bagi keluarga, kerabat, dan siapa saja yang terdampak karena bunuh diri.

Artikel ini terakhir diperbaharui pada 1 Desember 2020.

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on twitter
Share on facebook
Share on email
Share on pocket
Kevin Sucianto

Kevin Sucianto

Sebagai "Social Media Auditor", Kevin mulai berkontribusi di Into The Light Indonesia sejak 2013, lalu kabur sebelum kembali lagi pada 2018. Kevin adalah lulusan mahasiswa akuntansi yang saat ini tobat berprofesi di bidang marketing communication, penulis konten, dan pengelola media sosial. Di saat waktu luang, senang bermain Cookie Run: OvenBreak, mengisi teka-teki silang, menjadi barista abal-abal, atau berburu restoran paling enak di Jakarta.