Merawat Luka-luka Penolakan

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on pocket

Kita sebagai manusia amat mungkin pernah mengalami penolakan. Penolakan yang kita alami memiliki derajat keparahan yang bervariasi. Kita mungkin pernah ditolak untuk menginap di hotel tertentu karena seluruh kamar terisi. Di sisi lain, kita mungkin juga pernah ditolak ketika hendak masuk ke sebuah klub atau organisasi, ditolak ketika melamar pekerjaan, ditolak cintanya oleh orang yang kita taksir, maupun putus atau cerai dengan orang yang kita amat cintai. Pengalaman penolakan tentunya menyakitkan, bahkan meninggalkan luka jika kita ditolak oleh sesuatu atau seseorang atau sekelompok orang yang amat penting bagi kita.

Mengapa Penolakan Menyakitkan?

Manusia merupakan makhluk sosial yang sejak zaman purbakala saling bergantung satu sama lain. Kesalingbergantungan ini merupakan cara yang efektif bagi manusia untuk bertahan hidup. Kehilangan hubungan dengan manusia lain berarti potensi kematian meningkat amat drastis. Manusia zaman purbakala yang tertolak dari kelompok sosial dan mengembara seorang diri menjadi rentan terserang oleh hewan buas atau kehilangan figur perawat ketika sakit. Hal ini membuat manusia memiliki kebutuhan untuk diterima oleh orang lain[1]. Penolakan mengakibatkan luka fisik yang mematikan pada manusia zaman purbakala dan luka batin pada kita sekarang ini.

Rasa sakit akibat penolakan itu serupa dengan rasa sakit yang kita alami secara fisik. Bagian yang sama dalam otak kita aktif ketika kita mengalami baik penolakan sosial maupun luka fisik[2]. Pengalaman penolakan menjadi sebuah hal yang cukup penting untuk diperhatikan karena menyerang baik psikologis maupun fisik seseorang.

Luka-luka Penolakan

Penolakan tentunya mengakibatkan tekanan dalam diri kita. Pengalaman penolakan yang derajatnya bagi kita cukup berat dapat membuat kita merasa amat tertekan. Selain itu, pengalaman penolakan juga dapat memperkeruh penilaian harga diri kita.

Ketika kita melamar ke instansi yang sangat ingin kita masuki atau ketika kita sangat butuh pekerjaan untuk bertahan hidup kemudian ditolak, kita dapat merasa stres berat. Kita mungkin merasa kecewa, sedih, atau putus asa karena kita tidak dapat bekerja. Mungkin juga terbesit di pikiran kita bahwa kita tidak kompeten sehingga tidak diterima. Pada kasus yang lebih parah mungkin kita merasa bahwa kita bodoh, tidak mampu, atau gagal.

Perasaan tertolak yang mengikuti peristiwa putus cinta juga dapat menjadi luka yang membekas bagi kita. Tak cukup merasa sedih dan terluka, kita mungkin bisa menjadi pribadi yang pahit dan skeptis pada romansa. Suatu kali saya pernah berbincang dengan teman saya yang lain dan kami sampai pada kesimpulan bahwa putus cinta memunculkan pemikiran bahwa kita tidak diinginkan dan tidak berharga.

Perasaan sedih, marah, malu, bersalah, khawatir, terluka, atau bahkan cemburu merupakan perasaan-perasaan yang umum kita rasakan setelah mengalami penolakan[3]. Pengalaman penolakan yang mengakibatkan hilangnya kontak dengan orang yang kita anggap penting juga dapat membuat kita merasa kesepian[3]. Pengalaman penolakan juga dapat mengganggu kesehatan fisik kita dengan menurunkan kekebalan tubuh[4].

Bagaimana Merawat Luka-luka Penolakan?

Selayaknya luka di tubuh yang bisa menjadi infeksi serius, luka-luka akibat penolakan perlu untuk dirawat agar tidak bertambah parah dan mengganggu kesehatan jiwa kita. Hal ini terutama kita lakukan pada luka-luka penolakan akibat hubungan-hubungan yang kita anggap penting. Jika penolakan terjadi pada hubungan yang kita anggap tidak terlalu penting, kita lebih mudah menyembuhkan sengatan pada perasaan kita. Kebanyakan dari kita akan berpikir, “ya sudahlah” dan tidak terbebani perasaan tertekan jika kita ditolak oleh hotel karena kamar penuh atau rekan kantor lupa lalai membeli kue soes sejumlah orang seruangan.

Hal pertama yang perlu kita perhatikan saat merawat luka-luka penolakan adalah sikap kita terhadap diri kita sendiri. Kita perlu melihat apakah kita masih menyalahkan diri atau menghakimi diri kita. Ketika kita masih memiliki sikap ini, tentunya kita tidak dapat merawat luka-luka kita. Ini ibarat menaruh sambal pada luka terbuka kita.

Oleh karena itu, pertama-tama kita perlu untuk melihat pengalaman penolakan kita sebagaimana adanya. Alih-alih berpikir, “Kami putus karena kesalahanku, aku adalah pacar yang buruk,” kita perlu melihat dengan rasa penasaran apakah memang benar kita pacar yang buruk. Mungkin malah kita menemukan bahwa kita putus dengan pasangan kita karena perilaku kita sama-sama kekanak-kanakan dan saat itu kita belum dapat menangani konflik dengan baik.

Dari pemahaman yang jernih mengenai pengalaman penolakan kita, kita dapat beranjak untuk melakukan hal-hal untuk mengembangkan diri kita. Ketika kita menyadari bahwa kita belum cukup siap pada saat wawancara dengan HRD perusahaan yang kita lamar, kita bisa berlatih dengan teman-teman kita yang sudah lebih dulu diterima bekerja. Atau, kita bisa memperbaiki CV kita sehingga lebih menarik. Dalam konteks lain, kita bisa pula memperbaiki cara kita berkomunikasi sehingga hubungan kita dengan orang lain lebih hangat.

Hal yang perlu diingat ketika kita memperbaiki kekurangan kita adalah jangan sampai melupakan aspek positif dari diri kita. Meskipun saat itu kita belum bisa menangani konflik dengan baik, kita perlu mengingat pula bahwa kita juga perhatian pada pasangan kita. Hal ini dapat membantu mengurangi beban emosional akibat penolakan yang kita alami.

Kita juga dapat curhat dengan orang-orang yang kita percaya mengenai pengalaman penolakan kita. Selain membuat kita merasa lebih baik, curhat dengan orang lain juga membantu kita untuk melihat bahwa ada orang yang menerima kita meskipun kita ditolak. Selain itu, orang lain yang kita percaya juga dapat membantu kita untuk mengamati pengalaman kita dengan lebih jernih.

Kapan Pergi ke Konselor atau Profesional Kesehatan?

Luka akibat penolakan biasanya akan pulih seiring berjalannya waktu. Meskipun demikian, ada luka-luka penolakan yang perlu ditangani oleh konselor atau profesional kesehatan seperti psikolog atau psikiater. Apabila kita mengalami luka emosional yang begitu mendalam karena pengalaman penolakan yang mengganggu keseharian kita, pekerjaan kita, atau hubungan kita dengan orang lain, kita perlu untuk menemui para profesional kesehatan tersebut.

Pengalaman penolakan yang memicu gangguan kesehatan jiwa lainnya, seperti depresi atau keinginan bunuh diri, juga perlu dirawat oleh para profesional kesehatan. Mereka akan membantu kita untuk pulih, sehingga kita dapat kembali menjalani kehidupan yang layak dihidupi.


Referensi

[1] Weir, K. (2012, April). The pain of social rejection. Monitor on Psychology. Diambil dari http://www.apa.org/monitor/2012/04/rejection.aspx.

[2] Eisenberger, N. I., Lieberman, M. D., & Williams, K. D. (2003). Does rejection hurt? An fMRI study of social exclusion. Science, 302, 290-292.

[3] Leary, M. R. (2015). Emotional responses to interpersonal rejection. Dialogues in Clinical Neuroscience, 17(4), 435-441.

[4] Bregden, M., & Frank, V. (2008). Peer rejection and physical health problems in early adolescence. Journal of Developmental & Behavioral Pediatrics, 29(3), 183-190.

Winch, G. (2013). Emotional first aid: healing rejection, guilt, failure, and other everyday hurts. New York, NY: Plume Books.

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on pocket
Dicky Sugianto

Dicky Sugianto

Dicky Sugianto adalah komunikator, peneliti, dan praktisi ilmu psikologi. Ia memiliki keprihatinan pada isu kesehatan mental, seperti depresi, perilaku bunuh diri, kedukaan, serta kondisi psikologis kelompok yang dikenai stigma. Saat ini, ia sedang mempelajari bagaimana seseorang dapat memiliki kehidupan yang layak untuk dihidupi melalui welas asih.