Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on pocket

Di lorong ia menerka-nerka
siapa yang sedang membedah jiwa di dalam ruangan
janji temunya masih setengah jam lagi tapi ia sudah disana

Lima menit pertama ia habiskan bermain ponsel
Lima menit kedua ia memandang sekitar
Lima menit ketiga ia mendengarkan musik
Lima menit keempat ia berpikir apa yang hendak ia katakan
Lima menit kelima ia berpikir apa yang akan ia keluhkan
Lima menit keenam ia berpikir apa yang harus ia ceritakan

Kemudian namanya dipanggil
dari dalam ruangan seorang gadis keluar setelah berpelukan
Gadis itu tersenyum manis seakan-akan sudah lega
Ia berpikir, mungkin aku bisa selega itu nanti

Ia masuk, berjabat tangan, berkenalan, dan duduk
Enam puluh menitnya dimulai
lalu ia diam
bingung
padahal banyak suara di kepalanya sudah menyuruhnya angkat bicara
apalagi sudah ia persiapkan semuanya selama lima belas menit
sebelum ia masuk ruangan ia sudah siap
sekarang, ia kembali tidak siap
Di menit ke empat puluh sembilan ia angkat bicara
“Aku lelah,”

Sang tuan rumah mengangguk
mencoba menggali lebih tapi nihil
Ia hanya mengucap dua kata itu

Sebelas menit terakhir lebih ramai
walau dari mulutnya hanya mengucapkan
“Aku lelah,” pada setiap pertanyaan

Di menit ke enam puluh, ia pamit
berpelukan, dan keluar ruangan,
tersenyum, lega.

Mungkin cukup dua kata dulu
sebelum banyak cerita
Mungkin dua kata sudah cukup
untuk melepas beban
perlahan

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on pocket
Firnita Naafi Taufick

Firnita Naafi Taufick

Finnie adalah seorang mahasiswa Teknologi Pangan. Dalam waktu senggangnya suka menulis, membaca, menonton film, dan mendengarkan lagu. Ia berharap keterlibatannya menjadi salah satu voluntir Content Creator Into The Light bisa bermanfaat dan memberikan dampak yang baik untuk orang lain melalui tulisan-tulisannya. Suka main Instagram juga dan biasa posting di @frntaufick.