Mengenal Depresi Pascamelahirkan atau Postpartum Depression

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on pocket

Depresi pascamelahirkan (postpartum depression) adalah suatu kondisi dimana ibu mengalami depresi yang ditandai dengan gangguan mood berkepanjangan setelah melahirkan. Berbeda dengan baby blues syndrome yang terjadi hanya sepanjang dua minggu pertama pascamelahirkan, depresi pascamelahirkan dapat bertahan hingga beberapa bulan.

Depresi pascamelahirkan dialami oleh 1 dari 10 perempuan dalam tahun pertama persalinan. Kondisi ini ditemukan pada 50-60% ibu yang melahirkan pada persalinan pertama dan lebih sering terjadi pada ibu dengan persalinan sulit.

Ingin lebih tahu banyak mengenai postpartum depression? Ikutilah “Lingkar Studi Suicidologi: Kolaborasi Ayah dan Ibu dalam Pencegahan Bunuh Diri dan Depresi Pasca Melahirkan“!
Sabtu, 29 September 2018 – 10:00 s/d 12:00 WIB

Penderita depresi pascamelahirkan biasanya mengalami rasa lelah, sedih, insomnia dan juga gelisah. Gejala dapat bervariasi pada penderita dan tidak hanya terbatas pada satu gejala tertentu saja. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan oleh tenaga medis dan perlu mendapatkan penanganan sesuai kebutuhan.

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya depresi pascamelahirkan antara lain:

Riwayat pribadi dan keluarga terkait depresi

Ibu dengan riwayat depresi sebelum kehamilan maupun riwayat keluarga dengan depresi memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami depresi pascamelahirkan.

Faktor sosial

Dukungan pasangan, keluarga dan orang-orang di sekitar yang kurang, juga meningkatkan risiko untuk depresi.

Hormonal

Penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron disertai dengan peningkatan kadar prolaktin dan kortisol juga berkaitan dengan peningkatan risiko depresi paska melahirkan.

Dibandingkan dengan penyakit lain, kondisi ini memang lebih jarang disadari oleh keluarga maupun penderita sendiri, sehingga penanganan sering terlambat didapatkan.

Masih Dipenuhi Mitos

Selain itu, kurangnya kesadaran masyarakat akan kondisi ini berakibat pada banyak mitos yang beredar seputar depresi pascamelahirkan. Beberapa diantaranya:

Merupakan kondisi akibat ibu yang lemah atau malas

Kondisi ini adalah sebuah abnormalitas yang sama seperti penyakit lainnya yang kita derita dan bukan diakibatkan karena kemalasan atau kelemahan dari ibu.

Akan membaik dengan sendirinya

Sama seperti kondisi depresi lainnya, depresi pascamelahirkan butuh untuk ditangani secara profesional dan mendapatkan penanganan medis yang sesuai.

Ibu yang mengalami depresi adalah orang tua yang buruk

Tidak ada hubungan antara kemampuan menjadi orang tua dan depresi. Depresi dapat terjadi pada siapa saja, terlepas dari kemampuannya mendidik anak.

Lebih ringan dibanding depresi jenis lain

Depresi pascamelahirkan dapat sama beratnya dengan depresi lain. Kondisi ini tidak hanya dapat mempengaruhi sang ibu, namun juga anggota keluarga terdekat.

Hanya disebabkan oleh perubahan hormon

Depresi pascamelahirkan (dan sama halnya dengan jenis depresi lain) disebabkan oleh berbagai macam faktor dan bukan hanya disebabkan oleh perubahan hormon.

Ada berbagai pilihan penanganan yang bisa didapatkan oleh pasien dengan depresi pascamelahirkan, antara lain terapi kognitif dan perilaku, obat-obatan, maupun konseling. Depresi pascamelahirkan bisa diobati. Namun, setiap ibu dengan depresi pascamelahirkan sangat membutuhkan dukungan dari pasangan dan keluarga.

Referensi

O’hara W.M, Swain M.A,. 2009. Rates and risk of postpartum depression—a meta-analysis, International Review of Psychiatry, 8:1, 37-54, DOI: 10.3109/09540269609037816

Royal College of Psychiatrists’. 2013. Leaflet for Post Natal Depression. Royal College of Psychiatrists’; Public Education Editorial Board.

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on pocket
Sri Yuliani Umasugi

Sri Yuliani Umasugi

Sri is a medical doctor graduated from Universitas Gadjah Mada in 2017. She is now doing internship as general practitioner in Ambon, Maluku. Her first encounter with mental health issues when studying medicine has develop a sense of empathy and awareness about how neglected this disease is in Indonesia. She realized, Indonesia’s current condition regarding mental health issues are far from ideal but believe everyone can contribute. That, through collective effort we can get there. One baby step at a time. Writing as a way to reach more and further audience is how she hope to contribute to change, that Indonesia needs.