Literasi kesehatan jiwa terhadap anak-anak dengan masalah kesehatan mental umum dan orang tuanya di Jawa, Indonesia: sebuah studi kualitatif

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email

Klik untuk melihat versi lengkap.

Judul dalam bahasa Inggris

Mental health literacy amongst children with common mental health problems and their parents in Java, Indonesia: a qualitative study

Penulis

Helen Brooks, Benny Prawira, Kirsten Windfuhr, Irman Irmansyah, Karina Lovell, Armaji Kamaludi Syarif, Suzy Yusna Dewi, Swastika Wulan Pahlevi, Atik Puji Rahayu, Syachroni, Annisa Rizky Afrilia, Laoise Renwick, Rebecca Pedley, Soraya Salim and Penny Bee

Abstrak

Latar belakang

Mengoptimalkan literasi kesehatan mental (LKM) pada tingkat individu dan populasi dapat menjadi alat peningkatan dan pencegahan kesehatan mental yang efektif. Namun, sebagian besar konsep LKM dibentuk berdasarkan bukti dari negara-negara berpenghasilan tinggi. Sedikit yang diketahui tentang manifestasi dan peran LKM di negara-negara di mana budaya kesehatan dan sosial yang kolektivis menjadi dominan.

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji LKM anak-anak dan orang muda (AOM) Indonesia dengan pengalaman masalah kesehatan mental umum dan orang tuanya.

Metode

Wawancara semi-terstruktur dengan 40 peserta (19 AOM berusia 11–15 tahun dengan pengalaman masalah kesehatan mental umum dan 21 orang tua) dari tiga wilayah di Jawa, Indonesia. Data dianalisis menggunakan analisis kerangka kerja, sesuai dengan 1997 Mental Health Literacy Framework oleh Jorm.

Hasil

Orang tua dan AOM menunjukkan tingkat LKM yang relatif rendah, didefinisikan dari perspektif konvensional. Para peserta menjabarkan pentingnya religiusitas dan spiritualitas, terutama orang tua, begitu pula narasi tentang tanggung jawab pribadi. Keyakinan ini tampaknya berkontribusi pada tingginya sikap menyalahkan diri sendiri atas gangguan jiwa, mengandalkan diri sendiri untuk manajemen gejala, dominannya dukungan dari penyembuh spiritual/tradisional, dan rendahnya tendensi untuk mengakses bantuan profesional. AOM sangat bergantung pada dukungan keluarga, tetapi orang tua sering merasa bahwa mereka bukan tempat terbaik untuk berbicara dengan anak-anak mereka tentang kesehatan mental. AOM mendorong tersedianya sumber informasi kesehatan mental yang tepercaya dan berbasis teknologi.

Simpulan

Upaya yang matang diperlukan untuk meningkatkan LKM di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah dengan menggunakan pendekatan yang sesuai secara budaya untuk mengurangi stigma dan mengoptimalkan pencarian bantuan yang tepat waktu dan efektif untuk AOM. Meningkatkan literasi di tingkat orang tua dan keluarga mungkin efektif, terutama bila dikombinasikan dengan mekanisme untuk memfasilitasi komunikasi terbuka, seperti halnya pengembangan intervensi mandiri yang dikembangkan langsung untuk menjangkau generasi muda. Penelitian di masa depan dapat berguna untuk mengetahui efikasi komparatif dan penerimaan dari pendekatan yang berbeda ini.

Dipublikasi oleh Cambridge University Press:  21 Februari 2022

Kutip jurnal ini

Brooks, H., Prawira, B., Windfuhr, K., Irmansyah, I., Lovell, K., Syarif, A., . . . Bee, P. (2022). Mental health literacy amongst children with common mental health problems and their parents in Java, Indonesia: A qualitative study. Global Mental Health, 1-12. doi:10.1017/gmh.2022.5

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Into The Light Indonesia
Into The Light Indonesia
Dibentuk pada Mei 2013, Into The Light Indonesia Suicide Prevention Center for Advocacy, Research, and Education (SP-CARE) adalah sebuah komunitas orang muda yang berfokus sebagai pusat advokasi, kajian, dan edukasi pencegahan bunuh diri dan kesehatan jiwa di Indonesia. Into The Light Indonesia adalah komunitas inklusif yang digerakkan oleh orang muda lintas identitas, yang menjunjung tinggi pendekatan program berbasis bukti dan hak asasi manusia.