Bunuh Diri sebagai Masalah Kesehatan Global: Data dan Fakta Terbaru

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on pocket

Ini adalah bagian kedua dari seri “Cari Tahu tentang Bunuh Diri”. Temukan lebih banyak informasi seputar bunuh diri di laman “Tentang Bunuh Diri” Into The Light Indonesia.

Bunuh Diri dalam Angka

Kesehatan jiwa menjadi tantangan besar dalam skala global untuk kesehatan masyarakat. Dalam ranah internasional, isu ini masih jarang diperhatikan oleh pemerintah maupun organisasi-organisasi pembangunan.

Perilaku bunuh diri berawal dari pemikiran hendak mengakhiri hidup dengan metode yang dapat mematikan dan dilakukan dengan sengaja.

1000 +
orang per tahun meninggal akibat bunuh diri (WHO, 2014)[1].

Ini artinya sama dengan satu orang yang meninggal setiap

Dengan banyaknya kasus bunuh diri yang tidak terdeteksi, diprediksi jumlah yang diketahui lebih kecil dari jumlah kematian sebenarnya.

Angka percobaan bunuh diri diprediksi sejumlah 20-25 kali lipat dari jumlah kematian akibat bunuh diri.

Angka bunuh diri yang lebih tinggi ditemukan di negara berkembang dan dunia ketiga. Namun, bunuh diri ditemukan secara hampir merata dalam semua rentang status ekonomi.

Setiap kematian bunuh diri dapat berdampak kepada orang lain.

Mereka termasuk diantaranya keluarga dan kerabat yang ditinggalkan, tetangga, teman di sekolah/kuliah, kenalan di tempat kerja atau komunitas, polisi, perespon layanan darurat, tenaga kesehatan, saksi mata, hingga siapapun yang mengenal orang tersebut.

Diperkirakan, setiap kematian bunuh diri dapat berdampak pada termasuk mereka yang membutuhkan bantuan klinis atau dukungan setelah mereka terpapar dengan bunuh diri tersebut[2].

Remaja dan dewasa muda merupakan populasi dengan risiko bunuh diri yang paling tinggi.

Masalah kesehatan jiwa terus dihadapi dengan tantangan yang semakin berat sebagai masalah kesehatan publik dalam skala global, khususnya bagi anak muda:

WHO, 2014[1]:
Bunuh diri adalah penyebab kematian kedua tertinggi pada rentang usia 15 - 29 tahun.
Whiteford, et.al., 2013[3]:
Beban dari gangguan kejiwaan, seperti depresi dan gangguan cemas, juga paling sering dialami oleh orang muda (10-29 tahun) di seluruh dunia.​
Patel, Flisher, Hetrick, and McGorry, 2007[4]:
Usia 12-24 tahun merupakan usia dimana kebanyakan gangguan jiwa dimulai.
UNICEF, 2011[5]:
Terdapat peningkatan prevalensi gangguan psikiatri di kalangan orang muda dalam 20-30 terakhir.​
WHO[6] dan Kessler, et.al.[7]:
10-20% anak-anak dan orang muda mengalami gangguan kejiwaan di seluruh dunia. Setengah dari gangguan kejiwaan muncul di usia 14 tahun dan tiga per empat di usia pertengahan 20-an.​
Previous
Next

Masalah terhadap kesehatan jiwa bagaikan fenomena gunung es yang tidak terlihat, namun menyimpan bahaya besar yang dapat berdampak ke banyak sektor.

Gangguan jiwa yang muncul pada masa remaja ini dapat bertahan hingga ke usia dewasa yang dapat berdampak pada perkembangan hidup, penyesuaian sosial, dan produktivitas ekonomi[8].

Masalah kesehatan jiwa remaja juga memiliki risiko lintas generasi yang dapat berdampak negatif kepada kesehatan keturunan berikutnya dari remaja yang saat ini terdampak karena gangguan jiwa[9].

Bagaimana dengan di Indonesia?

Data mengenai jumlah orang yang meninggal akibat bunuh diri di Indonesia:[1][10]

1
orang pada tahun 2012
1
orang pada tahun 2016*

Dengan ini, Indonesia merupakan negara dengan tingkat bunuh diri ke-6 di Asia.

Namun, diperkirakan jumlah sebenarnya orang yang meninggal karena bunuh diri di Indonesia lebih tinggi, karena Indonesia tidak memiliki sistem pencatatan kematian bunuh diri. Dalam beberapa kasus, bunuh diri salah tercatat sebagai kecelakaan atau sengaja tidak dicatat sebagai bunuh diri karena khawatir akan stigma dan penolakan masyarakat terkait dengan bunuh diri.

*Data merupakan estimasi antara 7.800 s/d 10.300 kematian di tahun 2016.

Penelitian lain tentang perilaku bunuh diri di Indonesia tergolong sangat minim, namun beberapa penelitian lain mengenai depresi di Indonesia menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental di Indonesia tidak bisa dianggap sepele:

Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada 2018 menyebut 6.1% penduduk berusia 15 tahun ke atas menderita depresi, namun hanya 9% diantaranya yang menjalani pengobatan atau perawatan medis[11].

Pengpid dan Peltzer (2018) menyebut bahwa 21,8% penduduk berusia 15 tahun ke atas dilaporkan menunjukkan gejala depresi sedang atau berat, hampir sepertiga diantaranya adalah remaja 15-19 tahun[12].

Stigma merupakan hambatan utama dalam pencegahan bunuh diri.

Stigma terkait dengan isu kesehatan mental dapat mengakibatkan:

  • Keluarga dan kerabat yang cenderung merahasiakan atau bahkan memasung orang dengan gangguan kejiwaan[11].
  • Sikap masyarakat untuk mencari bantuan menjadi rendah, karena rasa malu atau bersalah, atau takut akan dihakimi.
  • Orang yang membutuhkan perawatan merasa tabu untuk berkunjung ke psikolog atau psikiater, karena tidak ingin dicap ‘orang gila’.
  • Rendahnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat mengenai kesehatan mental, yang mengakibatkan masyarakat percaya dengan mitos dan informasi yang salah, bahkan memperburuk stigma.

Tidak hanya itu, rendahnya ketersediaan tenaga profesional dan sulitnya akses ke layanan kesehatan jiwa juga menjadi hambatan utama lainnya.

Padahal, sejak 2001 WHO sudah memprediksi bahwa depresi akan menjadi sebuah 'krisis global' sebagai penyebab beban terbesar kedua pada tahun 2020, dan menjadi beban terbesar pertama pada 2030.[13]

Menurunnya tingkat kematian akibat bunuh diri merupakan salah satu indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) yang ditetapkan WHO dalam poin 3.4.2.

Begitu pun, masih banyak masalah kesehatan jiwa dan bunuh diri yang belum teratasi dan sangat membutuhkan partisipasi aktif dan kerja sama dari berbagai sektor.

Semua lapisan masyarakat, termasuk Anda, sangat berperan dalam pencegahan bunuh diri.

Mari bersama-sama lawan stigma bunuh diri, serta berikan dukungan sosial kepada orang-orang yang rentan bunuh diri dan penyintas kehilangan yang berduka.

Mari kita bekerja sama untuk hapus stigma, peduli sesama, sayangi jiwa. #kerjasamademijiwa

Di bagian berikutnya, kami akan membahas lebih dalam lagi seputar bunuh diri di Indonesia. Bagaimana sejarahnya dan kondisi kesehatan jiwa di Indonesia saat ini? Bagaimana saya bisa mendapatkan akses ke tenaga profesional di Indonesia? Bagaimana dengan risiko bunuh diri di kalangan anak muda di Indonesia?

Referensi:

[1] World Health Organization (2014). Preventing Suicide A Global Imperative. Luxembourg: WHO Library Cataloguing-in-Publication Data.

[2] Cerel, J. , Brown, M. M., Maple, M. , Singleton, M. , Venne, J. , Moore, M. and Flaherty, C. (2019). How Many People Are Exposed to Suicide? Not Six. Suicide Life Threat Behav. 2019 Apr;49(2):529-534. doi: 10.1111/sltb.12450

[3] Whiteford, H. A., Degenhardt, L., Rehm, J., Baxter, A. J., Ferrari, A. J., Erskine, H. E., Carlson, F.J, Norman, R.E., Flaxman, A.D., Johns, N., Burstein, R., Murray, C.J.L., & Vos, T. (2013). Global burden of disease attributable to mental and substance use disorders: Findings from the Global Burden of Disease Study 2010. The Lancet, 382(9904), 1575–1586. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(13)61611-6

[4] Patel, V., Flisher, A. J., Hetrick, S., & McGorry, P. (2007). Mental health of young people: a global public-health challenge. Lancet, 369(9569), 1302–1313. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(07)60368-7

[5] United Nations Children’s Fund (UNICEF) (2011). The State of the World’s Children 2011: Adolescence – An Age of Opportunity (p. 27). New York: UNICEF.

[6] World Health Organization. Child and adolescent mental health. Diakses dari https://www.who.int/mental_health/maternal-child/child_adolescent/en/.

[7] Kessler RC, Berglund P, Demler O, Jin R, Merikangas KR, Walters EE. (2005). Lifetime Prevalence and Age-of-Onset Distributions of DSM-IV Disorders in the National Comorbidity Survey Replication. Archives of General Psychiatry, 62 (6) pp. 593-602. doi: 10.1001/archpsyc.62.6.593.

[8] Patton, G. C., et.al. (2016). Our future: a Lancet commission on adolescent health and wellbeing. Lancet ,387(10036), 2423–2478. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(16)00579-1

[9] Patton, G. C., Olsson, C. A., Skirbekk, V., Saffery, R., Wlodek, M. E., Azzopardi, P. S., Stonawski, M, Rasmussen, B., Spry, E., Francis, K., Bhutta, Z.A, Kassebaum, N.J., Mokdad, A.H., Murray, C.J.L., Prentice, A.M, Reavley, N., Sheehan, P., Sweeny, K, Viner, R.M., Sawyer, S. M. (2018). Adolescence and the next generation. Nature, 554(7693), 458–466. https://doi.org/10.1038/nature25759

[10] Naghavi, M. (2016). Global, regional, and national burden of suicide mortality 1990 to 2016: systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2016. BMJ 2019;364:l94. DOI: 10.1136/bmj.l94

[11] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2018). Hasil Utama Riset Kesehatan Dasar 2018.

[12] Peltzer, K.,& Pengpid, S.(2018). High prevalence of depressive symptoms in a national sample of adults in Indonesia: childhood adversity, sociodemographic factors and health risk behaviourAsian Journal of Psychiatry, 33, 52-59. doi: 10.1016/j.ajp.2018.03.017.

[13] World Federation for Mental Health (2012). Depression: A Global Crisis – World Mental Health Day, October 10 2012.

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on pocket