Depresi pada Remaja: Membongkar Mitos dan Cara Menanganinya

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on twitter
Share on facebook
Share on email
Share on pocket

Remaja merupakan masa perkembangan dengan tantangan yang unik. Masa peralihan dari kanak-kanak yang sepenuhnya bergantung kepada kedua orang tua, menjadi individu dewasa yang mandiri, menjadikan masa remaja memiliki berbagai tantangan. Mulai dari ekspektasi dalam pencapaian akademis, kehidupan sosial, hingga keluarga yang terkadang kurang realistis, semuanya dapat memicu perasaan adanya penolakan dalam diri remaja.

Kehadiran media sosial pun memiliki potensi memperburuk hal ini, karena tanpa disadari remaja dibanjiri oleh pesan moral yang bertentangan diantara orang tua, teman sebaya, maupun lingkungan. Kondisi ini bersamaan dengan perubahan bentuk fisik, hormon, dan pola hubungan dengan lingkungan, menempatkan remaja dalam posisi berbeda dibanding populasi lainnya.

Pada kondisi yang unik ini, remaja membutuhkan panduan dan dukungan untuk memahami perubahan fisik dan emosinya, dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat pada umumnya. Pelbagai perubahan yang ada juga dapat mempengaruhi kesehatan jiwa remaja. Misalnya saja, data dari WHO menunjukkan adanya peningkatan angka depresi pada remaja.

Depresi sendiri merupakan suatu penyakit yang timbul akibat adanya interaksi yang kompleks dari pelbagai faktor biologis, sosial, dan psikologis yang terjadi pada siapa saja termasuk remaja.

Namun, kesadaran akan kesehatan jiwa pada remaja belum menjadi prioritas di Indonesia. Guru, keluarga, dan lingkungan terkadang menganggap sepele dan “biasa” terhadap perubahan kondisi psikologis pada remaja. Padahal, perubahan pada hormon dan perkembangan yang masih berlanjut pada tubuh dan otaknya, menyebabkan remaja cenderung mudah berubah perasaan atau moody. Sehingga bagi orang awam, menjadi sulit dibedakan ketika seorang remaja mengalami gangguan kesehatan jiwa dari apa yang dianggap tingkah “normal” remaja.

Selain itu, banyak remaja yang mengalami kesulitan dalam mengekspresikan perasaan dan emosi mereka. Remaja juga cenderung menutup diri dari orang dewasa yang berada di sekitarnya, sehingga keluarga pun terkadang tidak menyadari adanya gejala depresi dan tidak mencari bantuan yang diperlukan.

Perhatian orang dewasa terdekat terutama terkait fluktuasi mood remaja dibutuhkan untuk mengetahui apakah perubahan mood tersebut sudah sampai mempengaruhi aktivitas sehari-harinya. Kesadaran akan kesehatan remaja, termasuk diantaranya kesadaran akan prevalensi dan gejala depresi pada kelompok ini perlu dibangun dengan dasar partisipasi aktif.

Mitos

Beberapa mitos depresi pada remaja yang sering terdengar antara lain:

Remaja tidak mengalami depresi

Depresi merupakan salah satu penyebab disabilitas terbanyak pada remaja dan dewasa muda. Sehingga, sangat mungkin bagi seorang remaja untuk mengalami depresi.

Depresi hanya dialami oleh remaja yang penyendiri

Depresi dapat mempengaruhi siapa saja terlepas dari kepribadiannya. Depresi tidak membedakan antara kepribadian yang periang maupun penyendiri.

Cuma ingin cari perhatian

Depresi adalah penyakit yang sama nyatanya dengan batuk, sakit perut, maupun demam. Remaja dengan depresi tidak mencari perhatian. Sebaliknya, mereka perlu didengarkan ketika mengungkapkan apa yang mereka rasakan.

Dialami sama seringnya pada remaja laki-laki dan perempuan

Depresi pada remaja lebih sering dialami oleh remaja perempuan. Penelitian menunjukkan hal ini disebabkan oleh stressor interpersonal yang dua kali lipat lebih banyak dialami dan direspon oleh remaja perempuan dibandingkan dengan remaja laki-laki.

Depresi tidak diturunkan

Meskipun belum banyak bukti pewarisan depresi lewat DNA, penelitian telah menunjukkan bahwa remaja dengan anggota keluarga yang memiliki riwayat depresi lebih berisiko mengalami hal yang sama.

Hanya merupakan sebuah fase yang akan berlalu dengan sendirinya

Berbeda dengan kesedihan pada umumnya, depresi dapat mempengaruhi aktivitas sehari-hari dan bertahan hingga berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun melewati masa dewasa. Depresi tidak berlalu dengan sendirinya, melainkan membutuhkan pengobatan yang sesuai.

Menangani Depresi pada Remaja

Depresi pada remaja perlu diperhatikan dengan serius. Dalam menangani dengan kecenderungan depresi pada remaja, ada beberapa panduan sederhana yang dapat diikuti.

Tawarkan bantuan dan dengarkan

Ajak remaja membicarakan apa yang ia rasakan dan dengarkan. Salah satu hal paling esensial dalam proses mengajak berbicara dan mendengarkan adalah dengan tidak bersikap menggurui remaja, baik mengenai permasalahannya maupun perasaannya.

Perhatikan tingkah, pola dan pembicaraan remaja

Tanyakan apa mereka rasakan dan beri perhatian khusus pada tingkah yang tidak biasanya maupun tema pembicaraan, seperti keinginan mengakhiri hidup, merasa tidak berharga, dsb.

Mencari bantuan tenaga profesional

Depresi pada remaja dapat diobati, sehingga sangat penting untuk memeriksakan diri dan memperoleh penanganan yang tepat dari tenaga kesehatan professional. Dukungan dari keluarga, guru, dan teman sebaya juga penting dalam hal ini.

Biarkan mereka tahu kepedulian dan dukungan Anda

Bagi orang dengan depresi, mengetahui bahwa masih ada orang lain yang peduli dengannya sangatlah penting. Tunjukkan kepedulian dan dukungan Anda dan biarkan mereka tahu bahwa mereka berharga.

Referensi

Koplewicz, H.S. 2002. More than Moody: Recognizing and Treating Adolescent Depression. The
Brown University Child and Adolescent Behavior Letter, Vol.18, No.12, December 2002.
Manisses Communication Group.

John Hopkins Medicine. “Debunking Myths of Teen Depression“. Diakses 21 Agustus 2018.

Mental Health America. “Depression In Teens“. Diakses 21 Agustus 2018.

World Health Organization. “Adolescents and mental health“. Diakses 21 Agustus 2018.

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on twitter
Share on facebook
Share on email
Share on pocket
Sri Yuliani Umasugi

Sri Yuliani Umasugi

Sri is a medical doctor graduated from Universitas Gadjah Mada in 2017. She is now doing internship as general practitioner in Ambon, Maluku. Her first encounter with mental health issues when studying medicine has develop a sense of empathy and awareness about how neglected this disease is in Indonesia. She realized, Indonesia’s current condition regarding mental health issues are far from ideal but believe everyone can contribute. That, through collective effort we can get there. One baby step at a time. Writing as a way to reach more and further audience is how she hope to contribute to change, that Indonesia needs.